Pasangan Pengantin Jawa (Foto : FIkry)
Pasangan Pengantin Jawa (Foto : FIkry)

Semarang, Jowonews.com—Jawa memang terkenal dengan tradisi dan adatnya yang selalu dijunjung tinggi. Sejak zaman kerajaan hingga kini, mayoritas masyarakat Jawa pun masih memegang teguh nilai dan makna di setiap agenda – agenda jawa, salah satunya adalah pernikahan.

Pernikahan tradisi Jawa selalu menarik untuk dilihat, dimana nilai dan karakter budaya selalu dijunjung dalam perhelatan agung itu.

Dari pantauan Jowonews, beberapa hal berikut selalu dipegang teguh dalam sebuah keluarga jika akan menikahkan putar dan putrinya. Berikut beberapa rangkaian pernikahan adat Jawa dari hasil pengamatan redaksi Jowonews.

Memasang tratag

Tanda resmi bahwa pemilik rumah punya hajatan mantu. Tarub dibuat menjelang acara inti dengan ciri khas dominasi hiasan daun kelapa muda (janur), hiasan warna-warni, dan kadang disertai dengan ubarampe berupa nasi uduk (nasi gurih), nasi asahan, nasi golong, kolak ketan dan apem. Biasanya tratag ini dipasang di rumah tempat pernikahan.

Akad Nikah

Ini adalah peristiwa penting dan sacral dalam hajatan mantu adalah ijab qobul di mana sepasang calon pengantin bersumpah di hadapan naib yang disaksikan wali, sesepuh dan orang tua kedua belah pihak serta beberapa tamu undangan.  Untuk tahun 2014 ini mungkin agak sedikit berbeda karena peraturan dari KUA yang berbeda.

Upacara Panggih dan Seserahan

Ada Dalang Pengantin
Ada Dalang Pengantin

Acara temu pengantin atau mempertemukan pengantin terdiri dari Liron kembar mayang Saling tukar kembar mayang antar pengantin, bermakna menyatukan cipta, rasa dan karsa untuk mersama-sama mewujudkan kebahagiaan dan keselamatan.

Gantal Daun sirih digulung kecil diikat benang putih yang saling dilempar oleh masingmasing pengantin, dengan harapan semoga semua godaan akan hilang terkena lemparan itu.  Injak telur atau ngidak endhog Pengantin putra menginjak telur ayam sampai pecah sebagai simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya.

Pada sesi ini juga diadakan sambutan serah terima dari pihak pengantin putri dan pengantin putra, dilanjut pemberian tali asih yang berisi uang dari pihak putra, dan kemudian doa dan khotbah nikah oleh ustadz.

Sungkeman

Sungkeman pertama ditujukan kepada orang tua yang diteruskan kepada para sesepuh lainnya seperti nenek, kakek dan sebagainya. Sungkeman ini dilakukan dengan penuh takzim dan membuat suasana haru, karena pasangan muda ini sangat awam dalam menghadapi persoalan kehidupan rumah tangga. Padahal sejak itu mereka harus melangkah sendiri dan akan menjadi orang tua bagi anaknya kelak. Oleh sebab itulah bekal berupa doa restu merupakan hal yang sangat penting dan ditunggu pasangan pengantin.

Prosesi prosesi tersebut diatas biasanya ada yang dilakukan secara utuh artinya semua kegiatan upacara pernikahan adat tersebut dilaksanakan semua, ada pula yang melaksanakan hanya beberapa bagian dari prosesi tersebut diatas.

Setelah itu berlanjut ke pesta pernikahan sesuai dengan adat masing – masing daerah.

Redaktur : Dwi Purnawan (Ikuti di Twitter @dwi_itudua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here