Jabat tangan erat bikin hidup bahagia. (Foto : IST)
Jabat tangan erat bikin hidup bahagia. (Foto : IST)

Jowonews.com—Ternyata banyak hal yang bisa membuat hidup kita menjadi lebih baik, tahan lama dan bahagia. Salah satunya adalah dengan jabat tangan dengan erat. Hal itu disimpulkan oleh studi di International Institute for Applied Systems Analysis.

Berdasarkan dari 50 hasil studi mengenai gerak dan bahasa tubuh sejumlah orang dipelajari oleh para peneliti dan dipublikasikan di jurnal PLOS ONE. Mereka menemukan bahwa orang dengan tingkat edukasi dan penghasilan yang tinggi, umumnya menjabat tangan dengan erat.

“Berdasarkan kekuatan genggaman kala berjabat tangan, orang dengan tingkat pendidikan yang tinggi merasa jauh lebih muda dibandingkan mereka yang berpendidikan lebih rendah dari mereka. ujar penulis penelitian Sergei Scherbov, seperti dikutip dari ABC, baru – baru ini.

Diketahui, peneliti dari International Institute for Applied Systems Analysis telah mengkaji lebih dari 50 studi dari seluruh dunia untuk artikel mereka yang akan dimuat dalam jurnal PLOS ONE. Dari analisa hasil studi tersebut, mereka menemukan bahwa orang dengan tingkat edukasi tinggi di usia 69 tahun, punya genggaman yang sama kuatnya saat berjabat tangan dengan orang berusia 65 tahun yang tingkat pendidikannya rendah.

Dengan demikian, berarti semakin kuat genggaman tangan maka semakin tinggi juga tingkat edukasi mereka. “Menurut kekuatan genggaman saat berjabat tangan, orang dengan edukasi tinggi merasa lebih muda beberapa tahun dibandingkan orang yang tingkat pendidikannya lebih rendah,” ujar salah satu penulis penelitian Sergei Scherbov.

Sementara, dalam studi lain, para peneliti mempelajari lebih dari satu juta responden pria yang hendak menjalani tes masuk pendidikan militer. Disimpulkan bahwa mereka yang menjabat tangan dengan kekuatan minim, ditemukan berusia lebih pendek dibandingkan mereka yang memiliki genggaman tangan yang kuat.

Responden dengan cara menjabat tangan yang lemah, diketahui memiliki kehidupan yang kurang bahagia, mudah putus asa, depresi, dan memiliki potensi mengalami gangguan psikologis. Studi tersebut dihelat oleh European Research Council untuk menemukan cara baru dalam mengetahui proses penuaan pada manusia, lewat usia, kesehatan, status ketidakmampuan fisik dan faktor lain.

Redaktur : Dwi Purnawan (Ikuti di twitter @dwi_itudua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here