Ilustrasi Wartawan. (Foto : Kompas)
Ilustrasi Wartawan. (Foto : Kompas)
Ilustrasi Wartawan. (Foto : Kompas)
Ilustrasi Wartawan. (Foto : Kompas)

Semarang, Jowonews.com—Jurnalis Peliput di lingkungan Pemprov dan DPRD Jateng yang tergabung dalam Kelompok Diskusi Wartawan (KDW) Jawa Tengah dan Forum Wartawan Provinsi Jawa Tengah (FWPJT)  akan menggelar fokus group diskusi (FGD) ”Membangun Komunikasi Efektif Eksekutif, Legislatif dan Media Massa”.

Rencananya, diskusi akan diselenggarakan Rabu (15/10) di Press Room Provinsi Jateng Kompleks Kantor Gubernur Jateng Jalan Pahlawan Semarang. Bertindak sebagai moderator Ketua FWPJT Teguh Hadi Prayitno.

Menurut Ketua Panitia Ahmad Su’udi, FGD tersebut akan menghadirkan sejumlah pakar dari kalangan pers, antara lain Ketua Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) Semarang Rofiudin, Ketua PWI Jateng. Disamping itu juga aktivis LSM KP2KKN,  kalangan dewan dan sudah tentu Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.  “Kami berharap Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bisa hadir dalam FGD nanti,” harap Su’udi, dalam keterangan persnya, Selasa (14/10).

Dikatakan Ahmad, kehadiran gubernur dalam FGD sangat penting sekali. Sebab, hubungan gubernur dengan organisasi pers/wartawan sejak awal sangat tidak harmonis, saling berhadap-hadapan, saling serang, saling jegal, dll.

Diketahui, Ganjar sejak awal kepemimpinannya sudah menyinggung soal amplop wartawan. Ia menyatakan akan menghapus amplop. Segala hal anggaran yang menyangkut peliputan media massa juga dihapus. “Alasan beliau, pemberian amplop merupakan langkah yang tidak menghormati eksistensi kewartawanan dan etika jurnalistik,”katanya.

Ganjar memilih memberikan kompensasi kepada wartawan dengan lomba penulisan yang diikuti oleh seluruh media di Jawa Tengah. Namun ironisnya, di tengah seruan untuk menghentikan anggaran peliputan dan aktikepada wartawan tersebut, Ganjar justru mengajak pelesir lima wartawan yang disebut sebagai pemenang lomba penulisan jurnalistik yang diadakan Pemprov Jateng.

“Sontak saja, hal ini menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk kalangan wartawan. Salah satunya adalah kecaman bahwa kegiatan mengajak bepergian ke Jerman tersebut menggunakan alokasi dana APBD Perubahan 2014,”paparnya.

Selain itu, pada nomenklatur awal lomba penulisan tersebut, tidak ada embel-embel hadiah travelling ke luar negeri. Kebijakan itu membuat Ganjar dinilai publik tidak konsisten. Langkah mengajak wartawan ke Jerman, dinilai banyak pihak merupakan bentuk lain dari penyuapan pada wartawan.

“Tentu hal itu sangat tidak menguntungkan bagi masyarakat Jateng. Keretakan hubungan akhirnya menimbulkan distorsi informasi serta tidak optimalnya peran dari kedua pihak dalam memberi pelayanan terbaik untuk masyarakat,”katanya.

“Sekarang  perlu ada upaya mendesain, membingkai agar kedua pilar dapat bersinergi untuk kepentingan masyarakat,”FGD nanti kami harapkan akan membedah akar persoalan untuk diupayakan dari solusi solusi yang konkret,”pungkasnya. (AS-JN01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here