foto : www.semarang.bisnis.com
Bencana Banjir di Jawa Tengah tahun 2014, foto : www.semarang.bisnis.com
Bencana Banjir di Jawa Tengah tahun 2014, foto : www.semarang.bisnis.com

Semarang, Jowonews.com – Mendekati musim hujan, Pemerintah Provinsi Jateng harus mensiapsiagakan penanggulangan bencana alam. Perkiraan puncak musim hujan diprediksi Januari harus diwaspadai pemerintah utamanya di wilayah yang sering tergenang air dan terjadi tanah longsor.

‪Anggota DPRD Jateng Muh Zen ADV mengatakan, masyarakat harus diberikan informasi sampai sejauh mana kesiapan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), serta badan-badan dan dinas terkait lainnya. Hak informasi tersebut harus disiarkan sebagai salah satu antisipasi penanggulangan bencana primer.

“Pemprov perlu melakukan komunikasi yang intensif dengan pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah pusat, melalui BBWS di pusat, maupun melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengenai kondisi sungai-sungai di Jateng,” jelas politkus PKB itu.

Anggota Komisi E tersebut tak menampik jika penanganan bencana tahun lalu yang menimpa Jateng menyebabkan kerugian besar. Wilayah Jateng bagian timur, tengah, dan barat serta Solo Raya dilanda banjir bandang hebat. Hal itu mengakibatkan kerusakan besar di sektor pertanian, pendidikan, hingga infrastruktur yang di dalamnya terdapat beberapa ruas titik jalan yang putus lantaran ambruknya jembatan.

Kerugian akibat rusaknya infrastruktur tersebut diakumulasi mencapai Rp 1 triliun. “Di Pati, tahun lalu kerugian sampai Rp 1,7 triliun, dampak dari banjir bandang di Kudus, Jepara, Grobogan dan Pati sendiri. Maka, sampai sejauh mana ini kesiapan BBWS, BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi, dan BPBD kabupaten kota. Masyarakat berhak mengetahui informasinya, agar juga dapat melakukan pantauan-pantauan,” imbuhnya.

Zen menambahkan, beberapa sungai memang sudah dikeruk, dan saluran-saluran sudah diperbaiki. Namun pantauan lebih intensif perlu dilakukan, untuk mengantisipasi dan mengurangi resiko bencana lebih besar.

Tanpa langkah pencegahan yang serius, lanjutnya, dikhawatirkan kejadian-kejadian seperti tahun-tahun lalu terulang, yang pada akhirnya rakyat menjadi korban.

“Tidak boleh lagi ada istilah siklus, empat tahunan, lima tahunan, atau delapan tahunan. Bencana bukan siklus, tapi bisa kapanpun. Ya kita tidak berharap terjadi bencana, tapi perlu ada upaya meminimalisir bencana,” tutupnya. (JN01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here