Tradisi Buka Luwur di Kudus foto: www.dimasandriyan.blogspot.com

Kudus, Jowonews.com – Warga dari berbagai daerah tetap antusias antri nasi jangkrik goreng dan uyah asem pada ritual keagamaan untuk menandai penggantian kelambu di Makam Sunan Kudus.

Antrean waga memadati kompleks Makam Sunan Kudus diperkirakan mulai pukul 03.00 WIB karena khawatir kehabisan jatah nasi.

Tradisi “Buka Luwur” yang diselenggarakan setiap 10 Muharam 1436 Hijriah atau bertepatan dengan Senin (3/11) merupakan ritual keagamaan untuk menandai penggantian kelambu di Makam Sunan Kudus.

Panitia ritual selalu menyiapkan puluan ribu bungkus nasi jangkrik serta uyah asem untuk dibagikan kepada masyarakat.

Nasi bungkus yang disediakan berupa nasi “jangkrik goreng” dan “uyah asem”.

Menu nasi “uyah asem” terdiri atas daging kerbau tanpa kuah, sedangkan menu nasi “jangkrik goreng” dilengkapi kuah “tetelan” daging kerbau.

Adapun jumlah kerbau yang dipotong sebanyak 13 ekor dan kambing sebanyak 16 ekor.

Sementara jumlah beras yang dimasak sebanyak 6,5 ton dari total beras bantuan sebanyak 9,88 ton.

Untuk menyediakan puluhan ribu bungkus nasi tersebut, dibutuhkan puluhan tenaga untuk memasak serta relawan untuk membungkus makanan sebanyak 300-an orang.

Beberapa warga meyakini nasi tersebut bisa mendatangkan keberkahan karena diawali dengan ritual keagamaan yang dipimpin ulama setempat.

Warga yang antre nasi buka luwur tidak hanya dari kalangan usia muda, tetapi warga yang masih usia remaja juga ikut meramaikan antrian tersebut.

Desak-desakan serta berdiri hingga puluhan menit merupakan hal biasa, sehingga warga harus siap dengan fisik yang kuat agar tidak jatuh pingsan.

Seorang warga Desa Damaran, Rizki (18), mengaku, rela antri dan berdesak-desakan untuk mendapatkan berkah Sunan Kudus melalui nasi bungkus yang dibagikan kepada masyarakat itu.

“Saya baru sekali mengikuti kegiatan ini,” ujarnya.

Kedatangannya ke kompleks Makam Sunan Kudus itu bersama seorang temannya dari desa yang sama.

Warga yang membawa serta anak balita tidak hanya beberapa orang, bahkan jumlahnya cukup banyak.

Nasi bungkus yang mereka peroleh dari prosesi “Buka Luwur” itu tidak hanya dimakan, tetapi sebagian digunakan untuk pupuk tanaman.

Padatnya antrean membuat sejumlah warga jatuh pingsan, sehingga harus ditandu keluar dari ribuan warga antri itu.

Tim medis panitia tradisi Buka Luwur, Zayid mengatakan, jumlah warga yang pingsan tidak banyak, sedangkan jumlah pengantre yang dirawat ada 16 orang yang didominasi perempuan.

Panitia buka luwur berupaya mengatur warga yang antri agar tidak berdesak-desakan dengan membagi antrean dari sepanjang Jalan Menara menjadi dua antrean khusus untuk laki-laki dan perempuan.

Jumlah nasi bungkus yang disediakan untuk dibagikan kepada warga sebanyak 28.576 bungkus, ditambah 1.962 bungkus keranjang dari anyaman bambu untuk tamu antara lain tokoh masyarakat, kiai, pejabat, pekerja, panitia, relawan, dan penyumbang.

Nasi bungkus yang disediakan terdiri atas dua jenis yakni nasi “jangkrik goreng” dan “uyah asem”.

Menu nasi “uyah asem” adalah daging kerbau tanpa kuah, sedangkan menu nasi “jangkrik goreng” dilengkapi kuah “tetelan” daging kerbau. (JN04)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here