Mahasiswa UIN Semarang Unjuk Rasa. (Foto : JN01/Jowonews.com)
Mahasiswa UIN Semarang Unjuk Rasa. (Foto : JN01/Jowonews.com)
Mahasiswa UIN Semarang Unjuk Rasa. (Foto : JN01/Jowonews.com)
Mahasiswa UIN Semarang Unjuk Rasa. (Foto : JN01/Jowonews.com)

Semarang, Jowonews.com – Gejolak gelombang penolakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) mulai terasa di Jawa Tengah. Puluhan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) UIN Walisongo Semarang, melakukan aksi demo penolakan di depan gedung DPRD Jateng, Jumat (7/11/2014).

Mereka bahkan menuntut, agar presiden Jokowi-Jk turun dari jabatannya jika benar-benar menaikan harga BBM. Kenaikan BBM bukan merupakan solusi, karena pemerintah sebelumnya pernah menerapkan. Jika pemerintah Jokowi-Jk tetap menaikan BBM mereka jelas tidak memiliki terobosan dalam menyelesaikan masalah klasik di Indonesia.

“Jika pemerintah tetap menaikan BBM, Jokowi-Jk harus turun. Kebijakan ini jelas mengorbankan rakyat kecil,” kata koordinasi aksi,  M Arif Rohman Makin.

Dibanding menaikan harga, pemerintah mestinya harus membatai kendaraan pribadi. Selain itu, awasi penyaluran bbm dan usut tuntas mafia migas. Karena berbagai masalah itu tidak pernah rampung, meski pemerintah terus berganti.

Apalagi sebelumnya parai politik pengusung Jokowi, PDI Perjuangan getol menolak kenaikan harga BBM. “Ini bentuk inkonsistensi dari partai jokowi. Jika ada kenaikan bbm, rakyat kecil yang menderita,” tambahnya.

Puluhan mahasiswa ini kemudian ditemui sejumlah anggota DPRD Jateng. Dewan tetap menampung semua aspirasi berbagai element masyaakat. Anggota DPRD Jateng  Riyono mengaku menghargai semua aspirasi rakyat. Tapi ia menilai, terlalu dini, jika kemudian ada keinginan untuk menggulingkan pemerintah Jokowi-JK, hanya gara-gara masalah kenaikan BBM.

“Kalau minta menuntut ketika bbm naik, jokowi turun, itu prematur. Harus diketahui dulu kenapa BBM dinaikan. Jangan asal minta turun,” kata politisi PKS ini. (JN01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here