Semarang, Jowonews.com – Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) mengalami kesulitan untuk mendanai perawatan MAJT. Akibatnya, sekarang ini banyak bagian masjid yang mengalami kerusakan tidak bisa

Senja di MAJT
Senja di MAJT

diperbaiki.

Ironisnya, meski MAJT adalah masjid milik pemprov Jateng, pemprov seolah lepas tangan. Semenjak Ganjar Pranowo menjadi Gubernur Jateng, sampai sekarang belum pernah dibantu.

“Pada pak Bibit (Bibit Waluyo-red) menjadi gubernur, beliau 2 kali membantu masjid agung. Yaitu tahun 2010 membantu Rp 154 juta dan 2012 Rp 1 miliar untuk payung. Kalau pak Ganjar (Ganjar Pranowo-red) belum ada bantuan ke masjid agung,” ungkap Keta BP MAJT Drs H Ali Mufidz MPA, Senin (8/12).

Menurutnya, bantuan dari pemprov untuk pengelolaan dan perawatan MAJT sangat dibutuhkan sekali. Sebab, kebutuhan dana untuk perawatan memang besar sekali. Biaya penyusutan MAJT setiap tahunnya Rp 7 miliar. Itu berarti, setidaknya dalam 1 tahun dibutuhkan biaya perawatan Rp 7 miliar.

Disampaikan mantan gubernur Jateng ini, fungsi MAJT sekarang ini sudah seperti masjid wali. Mereka (masyarakat) datang bukan hanya untuk beribadah. Namun juga untuk kunjungan.

Fungsi lainnya, masjid agung sudah diakui sebagai payung kedamaian di Jateng. “Banyak selolah non Islam ke sini. Terbaru kita terima. Kunjungan 96 anak-anak SD Jepang. Mereka minta diijinkan melihat orang Islam wudhu dan sholat,”ungkapnya.

Setelah selesai dan mereka ditanya kesannya,katanya beda dengan yang di dengar dan diketahui di Jepang melalui televisi. “Selama ini kesan Islam di Indonesia itu teroris dan lain sebagainya,”katanya.

Anak-anak Jepang itu, terakhir minta diajari wudhu dan sholat. “Kita tidak ajari mereka kemortatan. Tapi kita perbolehkan mereka kunjungi kita,”pungkasnya. (JN01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here