Gedung Berlian DPRD Jateng. (Foto : Simpanglima.wordpress)
Gedung Berlian DPRD Jateng. (Foto : Simpanglima.wordpress)
Gedung Berlian DPRD Jateng. (Foto : Simpanglima.wordpress)
Gedung Berlian DPRD Jateng. (Foto : Simpanglima.wordpress)

Semarang, Jowonews.com – Bantuan hibah bidang keagamaan, kususnya untuk masjid dan mushola pada tahun 2014 banyak yang tidak dicairkan oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dengan alasan yang tidak jelas. Sampai akhir tahun ini, gubernur tidak mengeluarkan Surat Keputusan (SK) pencairannya.

Akibatnya, ratusan takmir masjid dan mushola di Jateng harus kecewa dan gigit jari. Mereka tidak akan bisa memperbaiki masjid/musholanya.  Padahal mereka sudah membuat proposal dan melengkapi semua persyaratan yang diperlukan.

Berdasarkan lampiran III Pergub No.56/2014 tanggal 1 Sept 2014 tentang Penjabaran Perubahan APBD 2014, hibah bidang keagamaan tahun 2014 mencapai Rp 28.238.000.000. Rinciannya, anggaran murni Rp 25.476.000.000 dan anggaran perubahan jadi Rp 28.238.000.000. Sehingga naik Rp 2.762.000.000.

Direncanakan yang akan mendapat bantuan adalah 1.962 tempat ibadah/lembaga. Paling banyak dapat bantuan adalah Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran Prov Jateng Rp 4 M, Badko TPQ 750 juta dan MUI Rp 750 juta.

Banyaknya proposal bantuan keagamaan yang tidak cair itu juga  disampaikan langsung Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi. Rukma mengaku banyak mendapat keluhan dari anggota dewan dan masyarakat yang sampai saat ini bantuan keagamaannya tidak cair. “Benar mas, banyak masukan dari masyarakat dan teman-teman dewan, bantuan tempat ibadah tahun 2014 banyak yang tidak cair,”ungkap Rukma Setyabudi, Senin (15/12).

Rukma belum mengetahui pasti berapa jumlah proposal yang tidak cair. Karena jumlahnya memang banyak, dan hampir semua dewan juga mengajukan aspirasi hibah keagamaan itu. Rukma merasa heran dengan tidak cairnya bantuan keagamaan itu. Selain sudah jelas anggarannya, nama-nama penerima bantuan juga sudah masuk dalam buku APBD 2014.

“Harusnya bisa dicairkan. Penerima bantuan itu kan sudah muncul di buku APBD. Kecuali proposal yang diajukan fiktif,”tegasnya.

Oleh karena itu, politisi PDIP ini menyatakan, persoalan itu menjadi salah satu agenda yang akan ditanyakan kepada gubernur, pada saat diundang ke DPRD nanti. “Selain menanyakan soal bankeu, kita juga akan menanyakan soal bantuan keagamaan yang banya tidak cair itu,”jekasnya.

Namun Rukma belum bisa memastikan kapan waktu memanggil gubernur. Sebab, Senin (15/3) kemarin, rapim gagal digelar, karena tidak kuorum. “Ya secepatnya pokoknya mas,”akunya.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng Hadi Santoso saat ditanya juga membenarkan banyaknya proposal keagamaan yang tidak bisa cair. Menurutnya, saat dirinya melakukan reses tanggal 8-13 desember lalu, banyak masyarakat yang menanyakannya. Kenapa sampai saat ini bantuan masjid dan mushola tidak bisa cair.

“Saat reses kemarin banjir keluhan mas. Banyak masyarakat sudah bikin rekening dan lain-lain, tapi sampai sekarang belum dipanggil. Padahal, sekarang (kemarin-red) sudah tanggal 15 desember,”akunya.

Hal yang sama disampaikan sejumlah staf fraksi DPRD Jateng yang selama ini bertugas menyampaikan proposal ke provinsi dari masyarakat. Mereka sekarang ini juga kebingungan menjawab pertanyaan masyarakat yang mengajukan proposal. “Saat kita tanyakan ke biro bina mental, jawabannya ya tidak jelas. Malah disuruh mengajukan lagi pada anggaran 2015,”ungkap salah seorang staf fraksi yang minta dirahasiakan namanya.

Kepala Biro Bintal Drs Rudy Appriyanto M.Si sampai berita ini ditulis belum bisa dikonfirmasi. Saat dihubungi melalui ponselnya, ketika mengetahui mau dikonfirmasi soal bantuan hibah keagamaan yang tidak cair, dia langsung mematikan ponselnya.

Ketika di SMS tidak dibalas. Sementara saat didatangi di ruang kerjanya lantai 10 kantor gubernuran, dia juga tidak mau menemui wartawan. (JN01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here