Koalisi Semarang untuk Kendeng melakukan aksi solidaritas warga Rembang yang menolak pembangunan pabrik semen
Koalisi Semarang untuk Kendeng melakukan aksi solidaritas warga Rembang yang menolak pembangunan pabrik semen
Koalisi Semarang untuk Kendeng melakukan aksi solidaritas warga Rembang yang menolak pembangunan pabrik semen
Koalisi Semarang untuk Kendeng melakukan aksi solidaritas warga Rembang yang menolak pembangunan pabrik semen

Semarang, Jowonews.com – Ratusan warga dari berbagai daerah di Jawa Tengah (Jateng) menggelar demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan Semarang, Kamis (18/12). Demo yang didominasi oleh kaum ibu menuntut agar Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mencabut ijin lingkungan PT Semen Indonesia di Rembang.

Selain itu, pendemo meminta agar Pemerintah Provinsi Jateng menolak permohonan ijin pertambangan di Jateng. Bukan hanya semen, melainkan juga pertambangan pasir besi.

Koordinator aksi, Joko Priyanto mengatakan, Pendapatan Asli Daerah (PAD) acapkali dijadikan alasan untuk menarik investasi. Tapi menurutnya, investasi tambang justru akan memicu terjadinya bencana karena rusaknya keseimbangan alam. “Keuntungan yang didapat dari pertambangan tidak sebanding dengan bencana yang mengancam,” kata dia.

Di samping itu, jika ijin pertambangan di Jateng dibuka lebar, niscaya, program kedaulatan pangan yang dicanangkan Presiden Joko Widodo terhambat. Pertambangan, kata Joko, akan mempersempit lahan pertanian. Sekaligus juga berdampak pada hal-hal yang berhubungan dengan sektor agraris, misalnya air.

Joko menuntut, agar Jateng dijadikan lumbung pangan nasional. Hal itu harus dibarengi dengan peningkatan produktifitas pertanian dan menjamin tidak ada kebijakan yang bertolak belakang dengan memberikan ijin pertambangan.”Kami menuntut agar gubernur melakukan moratorium pertambangan di seluruh Jateng,” ucap Joko.

Pantauan dilapangan, ratusan ibu-ibu menggelar aksi damai. Diiringi dendang lagu berbahasa jawa yang berisi kecaman terhadap perusakan alam, orator mengingatkan Ganjar untuk tidak melupakan petani kecil. Jika pabrik semen berdiri, petani khawatir mata pencaharian mereka terancam.

Orator, Gunarti mengatakan, bisnis semen hanya bersifat sementara. Dalam beberapa puluh tahun, pertambangan akan berakhir. Beda dengan pertanian dan pangan. “Selama manusia masih hidup, ia masih butuh pangan,” kata dia. (JN01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here