Tradisi Ampyang Kudus. (Foto : JN04)
Tradisi Ampyang Kudus. (Foto : JN04)
Tradisi Ampyang Kudus. (Foto : JN04)
Tradisi Ampyang Kudus. (Foto : JN04)

Kudus, Jowonews.com – Tradisi “Ampyang” di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, semakin semarak karena diwarnai dengan kirap budaya yang diikuti masyarakat desa setempat dengan menampilkan aneka kreasi.

Di antaranya, menampilkan visualisasi tokoh-tokoh yang berjasa pada saat berdirinya Desa Loram Kulon, sejumlah kesenian, rebana, drum band, aksi sepeda satu roda, serta visualisasi sejarah pendirian Masjid Wali At Taqwa.

Meskipun penuh dengan nuansa keagamaan, dalam rombongan kirap tersebut juga tampil tokoh kartun seperti teletubbies serta adanya atraksi sepeda motor trail melindas orang.

Tahun sebelumnya, memang tidak ada atraksi menegangkan tersebut, meski demikian tetap nuansa keagamaan masih melekat.

Masyarakat juga cukup antusias menyambut tradisi yang digelar (Sabtu/3/1/2014) tersebut, mengingat sejak siang hari warga mulai memadati rute kirab yang akan dilewati rombongan kirap “Ampyang” Maulid.

Ketua panitia tradisi “Ampyang” Maulid M. Taslim mengungkapkan bahwa tradisi turun temurun ini memang masih lestari karena setiap tahun digelar dalam rangka memperingati hari Lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Jumlah peserta kirab, kata dia, tercatat ada sebanyak 36 rombongan yang berasal dari sejumlah pengurus mushola, sekolah, pengusaha dan organisasi masyarakat. 

Sesepuh Desa setempat, Afrof Amaludin mengungkapkan, sejarah munculnya tradisi ampyang maulid berawal dari syiar agama Islam yang dibawa oleh Sultan Hadlirin atau Raden Toyib yang merupakan keturunan Aceh.

Awalnya, kata dia, bukan bernama “ampyang” melainkan ancaan (jawa) yang merupakan penyebutan nasi yang dibungkus daun jati dengan lauk botok.

Kemudian, lanjut dia, untuk memudahkan penyebutan oleh pemda setempat diubah menjadi “Ampyang Maulid” yang sekarang mudah diucapkan.

Pada kesempatan tersebut, hadir pula Bupati Kudus Musthofa dan Wakilnya Abdul Hamid, Ketua DPRD Kudus Masan, dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Kudus.”Mudah-mudahan masyarakat tetap melestarikan tradisi yang sudah berlangsung cukup lama ini,” ujar Musthofa.

Pada perayaan mendatang, kata dia, perlu dianggarkan yang lebih besar lagi, mengingat lewat tokoh agama di daerah setempat muncul sejumlah sektor usaha dan orang-orang yang kreatif di berbagai bidang. (JN04)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here