Masih Langka : Seorang penjual gas tiga kiloan menuliskan 'gas habis' di dagangan yang kosong. Sudah lebih dari sepekan ini gas tiga kiloan langka di Salatiga.
Masih Langka : Seorang penjual gas tiga kiloan menuliskan 'gas habis' di dagangan yang kosong. Sudah lebih dari sepekan ini gas tiga kiloan langka di Salatiga.
Masih Langka : Seorang penjual gas tiga kiloan menuliskan 'gas habis' di dagangan yang kosong. Sudah lebih dari sepekan ini gas tiga kiloan langka di Salatiga.
Masih Langka : Seorang penjual gas tiga kiloan menuliskan ‘gas habis’ di dagangan yang kosong. Sudah lebih dari sepekan ini gas tiga kiloan langka di Salatiga.

SALATIGA, Jowonews.com– Pasaran gas tiga kiloan atau juga disebut tabung gas melon di Kota Salatiga hingga saat ini masih langka. Toh bila ada di tingkat pengecer, harganya sudah tembus Rp 20 ribu. Langkanya gas kecil ini dimulai sejak libur Natal lalu.

Dari pantauan ke sejumlah pedagang di Pasar Sayangan, Jalan Patimura, Salatiga,Selasa (6/1), tabung-tabung gas dagangan semuanya kosong. Mereka bahkan terpaksa membuat tulisan ‘ gas habis’ di tabung itu, supaya calon pembeli tidak kecele.”

 Banyak yang datang mau membeli gas, daripada membuat kecele calon pembeli, lebih baik saya tulisi  saja,” kata Sugeng penjual kelontong di Pasar Sayangan.

Menurut Sugeng, kelangkaan gas itu terasa sejak libur Natal lalu. Saat itu ia sudah kesulitan untuk kulakan gas. Sebelum langka, ia kulakan gas dengan harga Rp 17.000, kemudian menjual dengan harga Rp 17.500.

“Namun setelah barang tidak ada, saya dengar di tingkat pengecer hingga mencapai Rp 20 ribu. Namun barangnya sendiri tidak ada,” katanya.
Sugeng berharap pemerintah daerah cepat tanggap dalam mengatasi kelangkaan gas tiga kiloan ini.
Kelangkaan gas juga dirasakan oleh warga. Warti (35) warga Kenteng RT 04 RW 05, Kecamatan Argomulyo, Salatiga ini binggung mencari gas, setelah isi tabung gas di rumahnya habis.

“Saya sudah muter-muter hingga ke pasar ( Pasar Rejosari) tetap tidak ada,” ujarnya.

Menurut dia, jika toh ia tidak bisa mendapatkan gas tiga kiloan, maka ia akan menggunakan bahan bakar kayu atau arang.

Sementara, menanggapi kelangkaan gas ini, salah seorang agen gas tiga kiloan PT Brawijaya, Bambang Soetopo mengatakan, kelangkaan gas di Salatiga ini karena sejumlah faktor.

Diantaranya, pasokan gas untuk Salatiga tidak sebanding dengan jumlah kepala keluarga ( KK) atau konsumen.

Kemudian adanya migrasi (perpindahan) dari pengguna tabung gas 12 kiloan ke gas tiga kiloan, menyusul naiknya harga tabung gas besar.

“Karena naiknya harga tabung gas besar, maka banyak yang beralih ke gas kecil,” ujarnya.

Ditambahkan Bambang, secara geografis Kota Salatiga dikelilingi oleh daerah dari Kabupaten Semarang. Masyarakat dari daerah satelit yang berdekatan dengan Kota Salatiga itu memilih membeli gas di darah terdekat yaitu Salatiga. Sehingga hal ini mengurangi jatah gas untuk Salatiga.

Sementara Kepala Disperindagkop dan UMKM Sri Danudjo mengatakan, di Salatiga ada empat agen yang memasok tabung gas tiga kiloan dari Pertamina.

Total dari ke-4 agen itu mendapat jatah pasokan  sebanyak 7840 tabung per hari. Karena saat ini jatah itu dirasa masih kurang, supaya tidak terjadi kelangkaan, maka Disperindagkop akan meminta tambahan kuota ke Pertamina, total sebanyak 4480 tabung per hari untuk keempat agen yang ada.

“Secepatnya kami akan kirim surat ke Walikota, kemudian supaya diteruskan ke Pertamina untuk tambahan kuota ini,” ujarnya.

Karena tidak serta merta kuota tambahan itu dikirim, maka Danudjo memperkirakan hingga Senin mendatang, tabung melon masih langka di Salatiga.(JN01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here