Ilusrasi sampah berserakan di Kudus. (Foto : IST)
Ilustrasi sampah berserakan di Kudus. (Foto : IST)
Ilusrasi sampah berserakan di Kudus. (Foto : IST)
Ilusrasi sampah berserakan di Kudus. (Foto : IST)

Kudus, Jowonews.com – Masyarakat di Kabupaten Kudus diminta tekan produksi sampah dengan memilah sampah organik dan nonroganik untuk dilakukan proses daur ulang.

“Khusus sampah nonorganik, seperti botol bekas atau plastik bekas bisa disulap menjadi tas atau bros dan aneka kerajinan lain yang bernilai ekonomis,” kata Pelaksana tugas Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Kudus Didik Tri Prasetiyo di Kudus.

Sementara sampah organik, kata dia, bisa dijadikan pupuk kompos karena beberapa daerah juga dibantu tempat sampah yang bisa digunakan untuk proses pengomposan.

Untuk mengendalikan produksi sampah, kata dia, memang harus difokuskan dari sumbernya. Upaya yang dilakukan pemerintah selama ini, di antaranya membuat bank sampah di beberapa desa sekaligus menjadi percontohan untuk desa lain.

Untuk sementara hanya ada di Desa Gondangmanis (Kecamatan Bae), Desa Tumpang Krasak (Kecamatan Jati), Kelurahan Mlati Norowito (Kecamatan Kota) dan Desa Cendono (Kecamatan Gebog).

Sedangkan masih tahap rintisan, antara lain di Desa Purwosari (Kecamatan Kaliwungu) dan Desa Lau (Kecamatan Dawe).

“Warga yang mengelola bank sampah juga diajak studi banding ke Yogyakarta serta mengikuti sejumlah kegiatan yang bisa memunculkan inspirasi bagi mereka dalam membuat kerajinan dari bahan sampah,” ujarnya.

Munculnya kesadaran masyarakat mengelola sampah rumah tangga, dengan sendirinya jumlah sampah yang dibuang ke TPA juga bisa berkurang.

Apalagi, kata dia, TPA Tanjung rejo hingga kini belum ada perluasan sehingga harus dilakukan upaya agar produksinya bisa ditekan.

Upaya lain menekan produksi sampah, yakni lewat pembakaran limbah (insinerator) yang setiap harinya mampu membakar 5 ton per hari. (JN04)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here