Hutan Penggaron Direncankan masuk Jateng Park
Hutan Penggaron Direncankan masuk Jateng Park
Hutan Penggaron Direncankan masuk Jateng Park
Hutan Penggaron Direncankan masuk Jateng Park

SEMARANG, Jowonews.com – Sejumlah aktivis lingkungan di Jawa Tengah menentang  rencana pemerintah provinsi melakukan pembangunan obyek wisata Jateng Park di kawasan hutan Penggaron, Kabupaten Semarang. Sebab, proyek itu dikhawatirkan merusak ekologi daerah setempat.

Manajer Program Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Tengah Arif Zayyin mengatakan, hutan Penggaron menjadi kawasan ekologi, daerah resapan, hutan kota, serta daya serap karbon yang menstabilkan suhu panas.

“Jika hutan Penggaron menjadi obyek wisata,  saya khawatir daerah Semarang akan semakin panas,” katanya di Semarang, Rabu (14/1).

Arif meminta agar pemerintah tak mudah mengalihfungsikan lahan hutan Penggaron menjadi tempat wisata. “Jika hutan Penggaron menjadi taman wisata maka akan berbahaya bagi kelestarian lingkungan,” kata dia.

Walhi menyarankan agar Jateng Park tak dibangun di hutan Penggaron, tapi di kawasan-kawasan yang ada penambangannya.  “Sekalin disitu dilakukan rehabilitasi,” kata Arif.

Menurut Arif, sebenarnya Jawa Tengah justru banyak membutuhkan daerah resapan. Sebab, hal itu bisa meminimalisir bencana banjir dan kekeringan. Menurutnya, yang perlu dilakukan pemerintah adalah justru melakukan penanaman kembali, bukan justru melakukan alih fungsi lahan.

Arif mengingatkan bahwa ancaman darurat air di Jawa Tengah.  “Ancaman darurat air sudah di depan mata. Sumber air semakin hilang dan terancam habis. Sungguh mengkhawatirkan,” tutur dia

Ia beberkan, di musim kemarau kemarin hampir seluruh desa di Jateng mengalami kekeringan. Pemerintah bukannya menyadari adanya kerusakan dan membuat program rehabilitasi hutan, tetapi malah menampilkan diri seperti malaikat penolong dengan membagikan air dengan mobil tanki.

“Kekeringan terjadi, pemerintah membagikan air dengan mobil tanki. Bukannya merehabilitasi sumber air yang rusak. Seperti sinterklas yang datang kesiangan,” tandas Arif.

Setali tiga uang, koordinator Society for Health, Education, Environment and Peace (SHEEP) Wilayah Jawa Tengah Husaini menambahkan, ia meminta kepada pemerintah agar melakukan pengkajian ulang terhadap rencana pembangunan proyek tersebut.

“Rencana proyek Jateng Park dikaji ulang,” kata dia.

Selain itu, lanjut dia, pembangunan obyek wisata yang akan melibatkan investor itu harus disusun analisis dampak lingkungan (Amdal.) “Harus ada amdal dan melibatkan masyarakat,” kata Husaini.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Pemprov Jawa Tengah, Sri Puryono mengatakan, rencana pembangunan obyek wisata Jateng Park masih dalam pembahasan-pembahasan, sebelum dilakukan memorandum of understanding (MoU) pada 30 Januari 2015 mendatang.

“Rencana pembangunan kawasan Jateng Park ini sudah lama, Jawa Timur dan Jawa Barat juga punya, rencana ini harus jadi,” kata dia.

Sri Puryono belum bisa memastikan bagaimana status penggunaan lahan hutan untuk proyek ini. Bisa saja tukar-menukar lahan, pinjam pakai, atau kerja sama operasional. (JN01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here