Nunggak SPI, Ijazah Siswa Di Kendal Ditahan

  • Whatsapp
Illustrasi
Illustrasi
Illustrasi

Kendal. Jowonews.com – SMPN 2 Kaliwungu Kendal masih menahan siswanya yang sudah lulus pada 2014 lalu. Pasalnya, siswa tersebut belum membayar uang Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI). Orang tua siswa, berinisial RNK, belum bisa membayar uang SPI anaknya, karena tidak mempunyai uang.
Menurut pengakuan kakak RNK, Muhammad Faiz, sebenarnya orang tua RNK, sudah pernah ke SMPN 2 Kaliwungu untuk mengambil ijazah anaknya. Namun dirinya harus pulang dengan tangan hampa, karena saat akan mengambil ijazah diberi rincian dana tanggungan yang harus dilunasi. Dana itu berupa pembayaran SPI, sumbangan perpisahan, Administrasi Ujian Nasional (UN), pas foto dan kenang-kenangan sekolah. Totalnya mencapai Rp975 ribu.
“Karena nggak punya uang ijazah terpaksa belum bisa diambil,” ujar Faiz.
Dia memerinci, besarnya uang SPI Rp200 ribu, komite sekolah Rp525 ribu, kenang-kenangan Rp100 ribu, perpisahan siswa Rp35 ribu, administrasi UN Rp100 ribu dan pas foto Rp15 ribu.
Faiz menjelaskan, adik kandungnya seharusnya tidak dibebani biaya sekolah sebanyak itu. Pasalnya, UN sudah ditanggung negara karena dilaksanakan secara nasional. Sehingga administrasi UN dianggapnya janggal. Begitupun dengan uang komite sekolah sebesar Rp525 ribu. Sebab selama ini tidak ada bayaran maupun honor bagi kepala sekolah.
“SPI itu setiap tahun ada, kasihan orang tua siswa yang tidak mampu. Begitupun dengan biaya perpisahan, semestinya sekolah tidak perlu memungut biaya dari siswa maupun orang tua siswa,” ujar Faiz.
Lantaran tidak mampu, RNK, hingga kini tidak bisa melanjutkan sekolah dan oleh orang tuanya di suruh ngaji di pondok pesantren di Kaliwungu.
Kepala Dinas Pendidikan Kendal, Muryono, akan menindak lanjutinya ke SMP 2 Kaliwungu. Pihaknya akan melakukan klarifikasi kepada kepala sekolah setempat agar mengetahui kebenarannya. Muryono menambahkan, jika memang tidak mampu, semestinya diberikan keringanan agar siswa maupun orang tuanya tidak merasa terbebani
“ Apalagi ijazah ditahan sejak kelulusan SMP 2014 tahun lalu, hal itu menurutnya akan menghambat siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” ujar Muryono. (JN09)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *