Program Jateng Tanpa Lubang, Ekspektasi Masyarakat Sangat Tinggi

  • Whatsapp
Jalan berlubang di Jateng. (Foto : IST)
Jalan berlubang di Jateng. (Foto : IST)
Jalan berlubang di Jateng. (Foto : IST)
Jalan berlubang di Jateng. (Foto : IST)

SEMARANG, Jowonews.com – Dinas Bina Marga Jawa Tengah menilai ekspentansi masyarakat terhadap jalan baik sangat luar biasa. Sehingga jika jalan tidak bagus dan mulus maka dikategorikan sebagai jalan rusak. Padahal untuk menilai sebuah jalan itu baik atau rusak ada standarnya dan harus menggunakan alat yang tersedia.

“Bagi kami jalan itu dikategorikan menjadi empat. Yaitu baik, sedang, rusak ringan, dan rusak berat. Namun yang ada di masyarakat, jalan kalau tidak baik pasti rusak,” ungkap Kepala Bidang Bina Teknis (Kabid Bintek) Dinas Bina Marga Jawa Tengah, Hanung Triyono, Rabu (21/1).
 
Hanung menjelaskan, ekspentansi masyarakat tersebut tidaklah salah dan bahkan harus dihargai. Sebab, prinsip masyarakat itu jika semakin makmur maka kebutuhan hidupnya akan meningkat. Tidak terkecuali mendapatkan layanan akses jalan yang bagus.

Bacaan Lainnya

“Tugas kita adalah membuat persepsi masyarakat itu untuk terus melakukan perbaikan. Karena tugas kita adalah melayani dengan sepenuh hati,” imbuhnya.

Dijelaskan, secara teknis untuk menilai kualitas sebuah jalan harus dihitung berdasarkan standar kekasaran dan kecepatan. Jalan dikatakan baik jika memiliki nilai antara 0-4 pada International Roughness index (IRI) atau Indeks Kekasaran Internasional. Hal ini berlaku sama di seluruh dunia.

“Di Indonesia, angka tersebut diperlebar menjadi 0-8. Jika jalan masih gronjal-gronjal berarti di atas angka 8. Untuk menentukan hal tersebut, tentu ada alatnya,” terangnya.

Sementara untuk kecepatan, lanjut Hanung, tergantung pada hambatan yang ada di jalan. Dalam hal ini, hambatan tersebut tidak diperhitungkan. Normalnya, jalan dikatakan baik jika dapat ditempuh antara 40-60 kilometer.

“Kalau batasan ini, yang menentukan adalah kita,” imbuhnya.

Terkait berapa jumlah jalan di Jawa Tengah yang masuk kategori baik dan buruk, Hanung menyebutkan data terakhir per Januari 2015 sebanyak 87 banding 13 persen. Namun jumlah tersebut belum rigid karena kemungkinan masih terjadi pergeseran. Sebab, kondisi hujan dapat mempengaruhi kekasaran jalan tersebut.

“Saat ini teman-teman masih melakukan pengecekan di lapangan. Semoga saja nilai itu tetap kita pertahankan,” harapnya.

Disinggung masukan anggota dewan yang menyatakan bahwa pemeliharaan dengan cara menambal jalan dinilai kurang efektif, Hanung menegaskan bahwa efektivitas sebuah pekerjaan adalah pemanfaatan layanan oleh masyarakat. Menurutnya, pembangunan jalan tidak dapat berhenti dan harus terus berlanjut.

“Selain penambalan jalan, kita juga punya proyek peningkatan jalan. Saat ini sudah proses lelang,” pungkasnya. (JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *