Ratusan Jiwa Terancam, 6 Hektar Sawah “Dikeringkan”

  • Whatsapp

lahanKAJEN, Jowonews.com – Lahan basah seluas 6 hektar yang berada di atas bukit Wadas Jaran, Desa Wangkelang Kecamatan Kandangserang bakal dikeringkan. Pasalnya, itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya bencana tanah longsor yang mengancam ratusan jiwa.

Alihfungsi menjadi lahan kering tersebut dilakukan dengan mengubah lahan basah (persawahan) menjadi lahan kering. Dengan cara mengganti tanaman padi dengan tanaman keras yang berakar kuat.

Bacaan Lainnya

Asisten II Sekda Pemkab Pekalongan, Afib mengatakan, dengan adanya tanaman keras diharapkan bisa menjadi penahan erosi bukit Wadas Jaran setinggi 300 meter tersebut.

“Karena Januari hingga Februari ini, curah hujan diperkirakan masih tinggi. Alih fungsi lahan milik warga tersebut didasarkan analisa dan kajian Badan Geologi Bandung di Desa Wangkelang,” ungkapnya pada wartawan, Kamis (22/1).

Koordinasi awal sudah dilakukan dengan pihak Kecamatan Kandangserang dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan. Selanjutnya, kata Afib, tim tindaklanjut hasil kajian kondisi wilayah Kandangserang Badan Geologi Bandung dan ESDM Provinsi Jateng, yang telah dibentuk akan melakukan pertemuan dengan warga setempat.

“Kami akan berembug dengan warga pemilik lahan terkait perubahan fungsi lahan mereka. Ada sekitar 18 orang pemilik lahan. Lahan tersempit sekira 1200 meter persegi dan paling luas 1 hektar,” jelasnya.

Terkait alihfungsi tersebut Afib memaparkan, pihaknya juga melakukan kajian dari sudut pandang nilai ekonomi dengan tujuan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.  Selain itu, seluruh tanaman keras yang nantinya ditanam (sesuai keinginan warga), dipastikan merupakan tanggungjawab pemerintah.

“Kami kaji bersama agar hasil atau nilai panen tanaman keras itu lebih tinggi dari hasil padi. Disamping itu, semua juga untuk keselamatan ratusan jiwa. Sebab jika bukit Wadas Jaran tersebut longsor, di bawahnya itu ada Desa Kandangserang Selatan,” paparnya.

Sementara itu, Camat Kandangserang Istiyanto, mengatakan, merujuk kepada faktor manfaat, pihaknya berharap bisa menuai hasil yang melegakan bagi semua kalangan. Dipaparkannya, ketika lahan basah sudah berganti  kering, dua sumber air yang biasanya mengairi sawah warga Wangkelang bakal dialihkan. Yakni hanya akan dialirkan ke sungai Gintung.

Agar tidak terbuang, air dari sumber alam tersebut akan ditampung di dalam bak atau bendungan kecil.
Sehingga ketika mengalir ke perkampungan warga bisa diambil manfaatnya sebagai air bersih.

“Jadi sebenarnya ini makna ganda. Dari Pemkab sudah memaparkan, karena ini sifatnya darurat, proses akan dipercepat. Apalagi curah hujan hingga Februari masih tinggi,” ungkapnya. (JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *