Tahun 2014, 711 Ibu di Jateng Meninggal Saat Hamil

  • Whatsapp
Wanita hamil di Kendal meningkat
Wanita hamil di Kendal meningkat
Wanita hamil di Kendal meningkat
Wanita hamil di Kendal meningkat

SEMARANG, Jowonews.com – Sebanyak 711 ibu di Jawa Tengah meninggal pada masa hamil, melahirkan dan nifas, sepanjang 2014. Sementara angka kematian bayi (AKB) di Jateng pada 2014 mencapai 5.666.

Pemprov Jateng segera menggiatkan gerakan reformasi pelayanan kesehatan sebagai upaya penyelamatan ibu dan bayi baru lahir.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto mengklaim jumlah rumah sakit, puskesmas dan tenaga kesehatan sudah cukup, namun angka kematian ibu (AKI) dan AKB menunjukkan kualitas pelayanan dan sistem komunikasi perlu ditingkatkan, baik itu di puskesmas maupun rumah sakit.

“Spesialis obsgyn (obstetri dan ginekologi) di Jateng ada 204, jadi rata-rata 6 per kabupaten/kota. Tapi memang persebarannya tidak merata. Terdapat 72 obsgyn hanya di Kota Semarang,” jelas Yulianto, dalam pemaparannya di acara Emergency Meeting-Mini University Penyelamatan Ibu dan Anak, di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Selasa (27/1).

Jumlah akademi kebidanan di Jateng, lanjut Yulianto, juga sudah mencukupi, yakni lebih dari 60. Tiap desa sudah ada bidan desa, dan sistem rujukan juga sudah berjalan.

“Namun tidak terelakkan, sebagian besar kematian justru terjadi di rumah sakit. Padahal sebagian besar sudah melalui pemeriksaan dokter obsgyn,” terangnya.

Angka kematian ibu yang mencapai 711 atau 126,55 per seratus ribu angka kelahiran hidup, tersebar di seluruh kabupaten/kota namun jumlah cukup banyak terdapat di wilayah dengan kemiskinan tinggi seperti Brebes.

Yulianto menambahkan, dokter spesialis obsgyn diharapkan tidak merangkap di terlalu banyak rumah sakit. “Kalau praktek di banyak tempat, RS kapiran,” terangnya.

Dalam upaya penyelamatan ibu dan bayi, Pemerintah Provinsi Jateng dibantu dengan program EMAS (Expanding Maternal and Neonatal Survival) dari USAID (Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika), yang menyiapkan mentor atau disebut dengan champion, untuk pendampingan agar tata kelola di rumah sakit dan puskesmas menjadi lebih baik.

Chief of Party EMAS USAid, Anne Hyre mengatakan EMAS bekerja sama dengan Pemprov Jateng untuk meningkatkan sistem rujukan.

EMAS telah dilakukan di lima wilayah, yakni Kabupaten Banyumas, Tegal, Brebes, Cilacap dan Kota Semarang. “Kami juga sudah siap melakukan pendampingan di wilayah lain,” kata Anne.

Anne mengakui, sudah banyak yang dilakukan agar rujukan berjalan baik, namun ratusan ibu meninggal di Jateng saat hamil dan nifas, serta ribuan bayi meninggal, sangat memprihatinkan.

“Selain itu, hanya 30 persen ibu yang hipertensi saat hamil yang mendapatkan penanganan. Juga hanya 10 persen bayi yang memerlukan antibitotik yang mendapatkan di tingkat puskemas. Maka ini adalah keadaan emergency,” jelas Anne.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo bertekad mereformasi pelayanan kesehatan. Spesialis obsgyn akan diratakan, dan Ganjar mengharapkan kesediaan para dokter tersebut untuk diratakan. Angka kematian yang tinggi dan meninggalnya justru di rumah sakit, merupakan permasalahan serius.

“Saya minta Pak Yul (Kepala Dinkes) membuat desain program, angka 711 itu harus turun. Gubernur akan membuat gerakan untuk menurunkan. Saya ajak siapapun yang mau terlibat, dari mulai kalangan akademisi, sampai SMK kesehatan. Desa EMAS saya rasa juga perlu kita cangkokkan pada daerah-daerah yang ‘bahaya’,” jelas Ganjar.

Dalam acara ini juga diberikan penghargaan kepada institusi dan individu yang dinilai berperan aktif dalam penyelamatan ibu dan bayi baru lahir, yaitu Bupati Banyumas Achmad Husain, Kabupaten Tegal, Dr. R. Soerjo Hadijono, POKJA (kelompok kerja) Kabupaten Banyumas, RS St Elisabeth Semarang, Forum Masyarakat Madani Kabupaten Cilacap, Puskesman Balapulang dan Desa Kalisalak Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas.(JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *