Sebulan, DBD Renggut Tujuh Nyawa Warga Brebes

  • Whatsapp
Pendertia DBD di kendal
Pendertia DBD di kendal

BREBES, Jowonews.com – Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi di Kabupaten Brebes. Selama Januari ini, terdapat 64 kasus DBD.

Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes mencatat, dari jumlah kasus tersebut, tujuh penderita diantaranya meninggal dunia. Korban meninggal akibat serangan penyakit DBD didominasi balita.

Bacaan Lainnya

Menurut Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dinkes Brebes, Awaludin SKM MKes, korban meninggal akibat DBD itu anak-anak yang tinggal di wilayah Pantura Brebes.

“Dibanding tahun sebelumnya, angka kematian memang jauh lebih tinggi. Dimana pada Januari 2014 lalu hanya ada 4 penderita DBD yang meninggal,”ungkapnya, Jumat (30/1).

Meski terdapat peningkatan jumlah korban meninggal, namun jumlah kasus penderita DBD pada awal tahun ini lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya pada bulan yang sama.

“Januari 2014 lalu terdapat 86 kasus, sementara untuk tahun ini hanya 64 kasus,” terangnya.

Kendati demikian, lanjut dia, potensi munculnya kasus DBD masih bisa saja terjadi. Mengingat saat ini masih berlangsung musim penghujan.

Diperkirakan, kasus DBD masih akan berlanjut hingga Maret mendatang. Untuk itu, berbagai upaya kini tengah dilakukan dinasnya guna menekan kasus penyakit yang ditularkan oleh nyamuk loreng itu.

Di antaranya, dengan melakukan penyemprotan (fongging) di lokasi yang terdapatnya kasus DBD. Disamping itu juga sosialisasi kepada masyarakat akan prilaku hidup sehat.

Kepala Dinas Kesehatan, dr Sri Gunadi MKes menambahkan, melihat keadaan seperti ini, daerah endemis DBD bisa meningkat.

“Kabupaten Brebes termasuk salah satu daerah endemis penyebaran penyakit demam berdarah. Namun, kejadian di Januari ini belum dikatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Pasalnya, kasus tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada bulan yang sama lebih kecil meski jumlah yang meninggal dunia lebih banyak,” paparnya.

Dia menandaskan, dinkes terus berupaya melakukan sosialisasi terkait bahaya penyakit demam berdarah. Perilaku hidup sehat dan bersih perlu digalakkan di masyarakat, sehingga resiko penyebaran penyakit tersebut bisa ditanggulangi semaksimal mungkin.

“Paling tidak satu minggu sekali kerja bakti untuk menguras air, menutup dan menimbun barang bekas. Kadang kita lupakan hal seperti itu. Tidak tertutup kemungkinan pula seperti di pagar bambu bisa tertampung air dan pelepah pisang bisa juga menampung air hujan dan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk aides aegypti,” ujar Sri Gunadi.

Dijelaskan, saat ini dinasnya masih memiliki  stok sebanyak 200 liter untuk insektisida dan 150 kg bubuk abate. Mudah-mudahan persediaan tersebut dapat mengantisipasi penyebaran penyakit  itu untuk  satu bulan ke depan .

“Untuk  pencegahan dilakukan pemberantasan sarang nyamuk dan masyarakat mengintrepretasikannya lewat fogging. Padahal yang utama gerakan menguras, menutup dan mengubur (3M) merupakan langkah terbaik untuk mencegah penyebaran nyamuk membahayakan itu. Kami juga memasang banner di tiap puskesmas berupa imbauan terhadap bahaya penyakit demam berdarah,” pungkasnya. (JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *