Komisi B Minta Jatah Aspirasi Dinas Peternakan

  • Whatsapp
Gedung Berlian DPRD Jateng. (Foto : Simpanglima.wordpress)
Gedung Berlian DPRD Jateng. (Foto : Simpanglima.wordpress)

SEMARANG, Jowonews  – Dugaan adanya bagi-bagi proyek aspirasi pada pembahasan APBD Jateng tahun 2015 akhirnya terungkap. Fakta, itu terungkap dan diungkapkan langsung Komisi B DPRD Jateng saat rapat kerja dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Tengah, di ruang rapat komisi lantai 3 Gedung Berlian, Rabu (4/2).

Seolah tidak memiliki rasa malu dan risih, Sekretaris Komisi B DPRD Jateng dr Messy Widiastuti minta kepada Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng, Agus Waryanto untuk menunjukkan data dan lokasi aspirasi yang diberikan kepada anggota komisi B.”Saya minta supaya ditunjukkan data dan lokasi aspirasi yang untuk anggota dewan,”ungkap Messy dengan lantangnya.

Bacaan Lainnya

Permintaan itu disampaikan Messy yang juga anggota FPDIP itu saat mendapat kesempatan terakhir menyampaikan pendapat dan sarannya sebelum rapat yang dipimpin Wakil Ketua Komisi B Yudi Suncahyo ditutup. Saat itu Messy sekitar 2 menit menyampaikan saran dan masukannya. Dan terakhir dia menanyakan jatah aspirasi tersebut.

Menjawab pertanyaan Messy itu, Agus Waryanto yang belum ada 1 bulan menjabat sebagai Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng pun, menyanggupi. Dia menjanjikan data dan lokasinya akan ditunjukkan pada rapat kerja berikutnya. “Nanti pada rapat berikutnya akan kita sampaikan,”katanya.

Karuan saja, dengan apa yang diungkapkan Messy tersebut, jelas kalau 19 anggota komisi B memang suka bermain aspirasi. Sehingga kalau Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan dimintai aspirasi, dinas lain yang menjadi mitra kerja komisi B diduga juga menjadi ajang proyek aspirasi anggota komisi B.

Sementara itu dalam rapat kerja tersebut juga terungkap kalau pemprov Jateng tahun ini menganggarkan Rp150 juta untuk membuat kartu ternak sapi.  Kartu itu untuk memberikan jaminan dan kepastian kepemilikan ternak.

Menurut Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agus Wariyanto, anggaran Rp150 juta itu diambilkan dari rasionalisasi  APBD 2015 saat dilakukan pembahasan akhir 2014  lalu. “Karena diminta dialihkan untuk program yang inovatif, makanya kami alihkan untuk membuat kartu ternak,”katanya.

Kartu ini untuk akan diluncurkan di Kebumen, anggaran itu dialokasikan untuk membuat 30 ribu kartu. Untuk sementara yang akan dibagikan kepada peternak sapi di enam kecamatan di Kebumen. “Untuk daerah lainnya masih menyusul,” imbuhnya.

Dijelaskan dia, kartu ternak ini untuk jaminan kepastian populasi sapi sebagaimana kartu tanda penduduk (KTP). Dengan harapan, semua sapi yag dimiliki oleh peternak itu teridentifikasi, pendatannya bisa semakin jelas.  Menurut Agus, tidak menutup kemungkinan kartu itu bisa dikembangkan untuk asuransi ternak, atau diagunkan melalui bank.

Dikatakannya, populasi sapi di Jawa Tengah kurang lebih sebanyak 1,5 juta ekor. Populasi sapi sapi potong tersentral di daerah Kebumen, Klaten, Grobogan, Sukoharjo, dan Blora. Sedangkan untuk sapi perah berada di Kabupaten Semarang, Salatiga, dan Boyolali.

Menurut dia, dari jutaan ekor sapi yang dikelola oleh peternak itu, Jawa Tengah selalu surplus daging. Produksi daging di Jawa Tengah pada 2014 mencapai 270 ribu ton, sementara konsumsinya hanya  170 ribu ton.  “Kita mempunyai upaya agar memberikan kontribusi secara nasional, agar 2015 ini bisa swa sembada daging secara nasional,” beber Agus.

Oleh karena itu, lanjut dia,  pembibitan harus dipacu agar produktifitasnya terus meningkat, selain itu juga bisa memberikan kemudahan-kemudahan bibit dan pakan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia peternak. “Kalau ini beres, Jateng sangat potensial untuk dikembangkan,” imbuh dia.

Anggota komisi B DPRD Jateng, Achsin Ma’ruf menilai, pembuatan kartu ternak itu dianggapnya tidak penting, karena fungsinya hanya untuk mengetahui jumlah populasi. “Kalau hanya untuk mengetahui populasi  cukup dilakukan oleh para penyuluh,” kata dia.

Menurut politikus partai amanat nasional (PAN) Jateng ini, anggaran itu lebih baik dialokasikan untuk memberikan bantuan ternak kepada warga miskin, agar perekonomiannya tumbuh. Sebab, waga miskin di Jateng hingga kini masih mencapai 4,7 juta jiwa. (JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *