DBD Menghawatirkan, Masyarakat Diajak Ronda Jentik

  • Whatsapp
Pendertia DBD di kendal
Pendertia DBD di kendal
Pendertia DBD di kendal
Pendertia DBD di kendal

SEMARANG, Jowonews.com – Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menggalakkan upaya memerangi Demam Berdarah Dengue (DBD). Berbarengan dengan reformasi birokrasi dalam pelayanan kesehatan, masyarakat juga diajak melakukan ‘Ronda Jentik’.

Kepala Dinas Kesehatan Jateng, dr. Yulianto menjelaskan, pihaknya terus mengupdate kasus DBD tiap minggu. Diakuinya ada peningkatan cukup signifikan di beberapa wilayah, antara lain Brebes dan Jepara. Namun belum dapat dikategorikan Kejadian Luar Biasa (KLB).

Bacaan Lainnya

“Di Brebes, sampai minggu keempat (Januari) ada 64 kasus dengan jumlah kematian 7 orang. Namun ini belum kita kategorikan KLB, sebab disebut demikian jika ada kejadian meningkat dua kali lipat dari sebelumnya,” jelas Yulianto, ditemui di sela Rapat Kerja Kesehatan Daerah Provinsi Jateng, di Semarang, kemarin.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan sampai dengan minggu ke-3 Januari 2015, Incidence Rate (IR) atau Angka Kesakitan DBD adalah 3,32 per 100 ribu penduduk. IR di beberapa wilayah cukup tinggi, yakni di Jepara 23,57, Blora 15,15, serta Kudus 8.38. 

Namun meski bukan KLB, lanjut Yulianto, setiap ada kejadian penyakit menular semua pihak harus waspada. Masyarakat juga diajak memastikan tidak ada jentik di rumah masing-masing. Caranya, di tempat-tempat penampungan air diperhatikan dengan senter, jika ada jentik, langsung dikuras. 

Jika bak air terlalu besar untuk dikuras, dapat diberi bubuk abate untuk membunuh larva nyamuk. Nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD berkembang biak di tempat penampungan air yang tidak bersentuhan dengan tanah. Seperti kaleng bekas dan ban bekas. 

“Kalau fogging tidak begitu efektif, sebab hanya membunuh nyamuk dewasa. Jentiknya tidak mati. Dan fogging ikut membunuh serangga lain yang menjadi indikator,” tuturnya. 

Wakil Gubenur Heru Sudjatmoko mengatakan, memerangi DBD menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga diajak menggalakkan pencegahan, namun yang terpenting negara harus hadir.

“Ini tanggung jawab pemerintah. DBD ini dari jentik, jadi contoh bagus di Boyolali, ada desa yang melakukan ronda jentik. Kita jangan menyalahkan masyarakat. Mengajak masyarakat mencegah iya, tapi negara harus hadir,” kata Heru, usai membuka Rapat Kerja Kesehatan Daerah. 

Reformasi birokrasi dalam layanan kesehatan akan terus digiatkan. Dari tingkat balai kesehatan masyarakat desa, puskesma, hingga rumah sakit, diajak berubah dan meningkatkan mutu pelayanan. (JN01) 

10 Wilayah dengan Angka Kesakitan DBD Tertinggi 
(per 100 ribu penduduk)

JEPARA 23.57
BLORA 15.15
KUDUS 8.38
KOTA MAGELANG 7.50
KOTA SURAKARTA 6.50
GROBOGAN 6.43
SEMARANG 5.44
KLATEN 5.13
PURWOREJO 3.97
BATANG 3.70

Rata-rata di Jateng : 3,32/100.000 penduduk

Sampai dengan Minggu ke-3 Januari 2015
Sumber : Dinas Kesehatan Jateng

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *