JTL Habiskan Rp 4,6 M, Bina Marga Sebut 90,5 Persen Lubang Tertambal

  • Whatsapp
Jalan berlubang di Jateng. (Foto : IST)
Jalan berlubang di Jateng. (Foto : IST)
Jalan berlubang di Jateng. (Foto : IST)
Jalan berlubang di Jateng. (Foto : IST)

SEMARANG, Jowonews.com – Program Jateng Tanpa Lubang selama bulan Januari menghabiskan anggaran Rp 4,6 miliar. Dinas Bina Marga Jateng mengklaim sudah 90,5 persen lubang jalan tertambal.

Total anggaran itu terbagi atas belanja material Rp 3,8 miliar dan upah pekerja Rp 856 juta. Jumlah lubang yang dipetakan Dinas Bina Marga sebanyak 76.843 dengan luas 52.675 meter persegi.

Bacaan Lainnya

Paling banyak wilayah Balai Pelaksana Teknis (BPT) Pati dan Semarang dengan lubang jalan lebih dari 27 ribu. Sedangkan di BPT lain jumlah lubang antara 1000 hingga 7000.

“Kami petakan di 9 BPT ruas jalan sepanjang 2667,34 kilometer,” kata Kepala Dinas Bina Marga Jateng Bambang NK, Senin (9/2).

Menurut Bambang, lubang yang sudah tertambal hingga 26 Januari mencapai 90,5 persen. Meski Januari sudah usai, bukan berarti penambalan lubang dan perawatan jalan berhenti. Pihaknya terus merawat jalan sepanjang tahun ini.

“Memang lubang masih banyak, tapi jangan salah, perawatan jalan terus kami lakukan,” katanya.

Dalam program ini, Bina Marga mengalami berbagai kendala, terutama cuaca. Pekerjaan penambalan lubang harus kebut-kebutan dengan hujan. Seringkali dalam satu ruas jalan, lubang bertambah dan berpindah.

“Jadi sebenarnya data lubang itu dinamis. Setiap hari lubang berubah dan kami berusaha semaksimal mungkin dengan semua sumber daya,” katanya.

Penambalan jalan itu menggunakan berbagai teknik bergantung kondisi jalan. Ada yang ditambal dengan hotmix, aggregate, campuran dingin, dan sisa urugan aspal.

Dengan rata-rata satu BPT mempekerjakan 500 orang, total pekerja yang dilibatkan dalam Jateng Tanpa Lubang sebanyak 4500 orang. “Di beberapa daerah, kami mengajak masyarakat setempat, seperti pemuda karangtaruna. Misalnya di Tegal ada 400 pemuda direkrut,” kata Bambang.

Selain cuaca, kendala lain ialah peralatan. Alat pemadat jalan misalnya, Bina Marga hanya punya 4 unit, dari seharusnya 10. Selain itu sarana pengangkut material juga terbatas sehingga harus bergantian.

“Kami butuh pengangkut kecil seperti Tossa roda tiga itu. Tiap balai minimal 3, kalau idealnya  ya satu pengamat jalan diberi satu Tossa,” jelas pria berkacamata ini.

Kendala lain yakni ada sebagian ruas jalan provinsi yang merupakan peralihan dari jalan kabupaten. Jalan peralihan ini memiliki kondisi pondasi yang tidak memenuhi syarat. Jika pun lubang di tambal, dalam waktu singkat akan rusak lagi.

Untungnya, ruas jalan fungsional ini  sudah diagendakan untuk ditingkatkan melalui anggaran infrastruktur APBD 2015. Dinas Bina Marga mendapat alokasi dana infrastruktur sangat besar tahun ini.

“Untuk 2015, belanja langsung infrastruktur Rp 2,071 triliun. Ada 129 paket pekerjaan yang akan dimulai Maret,” tandasnya.(udi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *