Rencana Penjualan Saham Tol Harus Dikaji Ulang

  • Whatsapp
jalan tol semarang solo, foto: www.solopos.com

jalan-tol-semarang-070113-R.-Rekotomo-antaraSEMARANG, Jowonews.com – Komisi C DPRD Jateng menyarankan kepada eksekutif untuk memikirkan kembali aset yang dimiliki Jateng jika akan menjualnya. Prospek investasi pada insfrastruktur jalan dianggap menguntungkan, meski memakan waktu lama untuk mencapai break even point (BEP). Pemprov diminta mengkaji kembali rencana penjualan saham tol seksi II ruas Bawen-Solo yang kini tersisa 26,1 persen.

Anggota Komisi C DPRD Jateng Wahyudin Noor Aly alias Goyud mengatakan Pemprov harus memikirkan cara agar saham milik PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) itu tak terus terdelusi. Menjual saham jalan bukan solusi utama, lantaran investasi jalan merupakan salah satu kekayaan yang vital untuk Pemprov. Kekhawatiran dewan jika Jateng merelakan saham tersebut, yakni masuknya pihak asing yang akan menguasai aset Jateng, saat Pemprov tak memiliki dana.

Bacaan Lainnya

“Pertama, kalau mau jual saham, apa SPJT sudah go public? Saham yang terdelusi sebaiknya dinaikan. Kedepan, kalau melihat dari sisi kepentingan pembangunan, fungsi jalan raya sangat prospektif. Apa pun yang terjadi harus bertahan dan dikuasai,” ungkap Politikus PAN itu di Gedung Berlian baru-baru ini.

Goyud menjelaskan, nilai investasi yang tak pernah menurun adalah investasi tanah dan bangunan. Dewan hanya menyaraknan kepada eksekutif untuk menjual saham yang tidak bisa memberikan pemasukan terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Jateng.

“Salah satunya, supaya tidak membebani Pemprov. Kecuali mobil ditiadakan dari Jateng, maka itu jalan tol boleh tidak dipertahankan,” seloroh Goyud.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng Sri Puryono belum bisa memberikan gambaran mengenai delusi yang terus terjadi. Pihaknya masih akan memikirkan jalan terbaik dengan melihat sisi positif dan negatifnya dari investasi saham tersebut.

“Saya pribadi berpendapat itu segera diambil langkah. kalau Jasa Marga mau menambahkan saham, itu yang kita tidak bisa elakkan. Tapi kalau mau nambah modal lagi, kita juga berat. Masih ada prioritas yang lain. Kalau sudah ada perusahaan yang membangun, pemerintah sebaiknya tidak ikut. Pendapat pribadi saya itu memang harus dijual,” terang Sekda.

Saat dihubungi, Direktur Utama PT SPJT Krisdiani Syamsi mengatakan belum ada perkembangan mengenai penjualan saham tersebut. Pihaknya masih dalam proses meyakinkan pembeli dalam penjualan sahamnya. Hingga awal Februari, Kris mengatakan prosentase saham masih sama yakni 26,1 persen. “Nanti kalau ada perkembangan saya beri tahu. Sejauh ini masih sama,” terangnya.(JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *