Pram Bukan Komunis, tapi Nasionalis

  • Whatsapp
image
Pramoedya Ananta Toer

Kendal, Jowonews.com – Sastrawan Pramudya Ananta Toer asal Blora selama ini dianggap sebagai seorang komunis sehingga karyanya banyak yang dicekal. Namun di mata kakaknya Susilo Toer, Pram bukan seorang komunis, tapi seorang nasionalis. Hal itu dikatakan Susilo Toer saat membedah buku Pramudya Dalam Kelambu di Kaliwungu, kemarin.
“Karena dinilai komunis maka bukunya yang berjudul Bumi Manusia tidak diperbolehkan ketika akan dibuat film di luar negeri,” ujar Susilo. Bedah buku digelar Jaringan Masyarakat Kendal (Jamak).
Dalam diskusi yang digelar oleh Jaringan Masyarakat Kendal itu, Susilo menambahkan, buku Pram Dalam Kelambu, menceritakan Pramudya saat berada dalam kebebasan. Susilo mengaku, sebagai adik kandung yang tinggal serumah dengan Pram, sangat tahu kehidupan Pram, saat sebelum berada di tahanan pulau Buru. Pram ditangkap oleh pemerintah Orde Baru karena didakwa sebagai seorang komunis.
Sementara itu, Eko Soetikno, teman akrab Pramudya Ananta Toer saat berada di tahanan pulau Buru,  mengaku bertemu dengan Pram, pada Agustus 1969 hingga November 1979. Saat itu, mereka bersama-sama menjadi tahanan politik di Pulau Buru. Eko menjelaskan, dirinya kenal betul bagaimana sifat dan sikap Pramudya.
Menurut Eko yang akrab disapa Babe, Pram yang lebih tua beberapa tahun darinya, adalah seorang penulis yang malas mendokumentasikan tulisan-tulisan karyanya. Padahal, Pram mempunyai banyak ide yang cerdas untuk. Lantaran malas itu, kemudian Babe, menyimpan karya-karya sastra Pram, yang ditulisnya di lembaran-lembaran kertas usang. Termasuk karya sastra Pram yang dikomikkan oleh Mardiana Meinhart, yang juga tahanan politik di Pulau Buru.
“Meski malas, Pram mempunyai daya ingat yang hebat. Dia hapal betul karya sastra yang telah ditulis,” ujar Babe. (JN09)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *