Kasus Kebakaran Masih Sering Landa Kudus

  • Whatsapp
image
Ilustrasi

Kudus, Jowonews.com – Tiga tahun terakhir Kota Keretek ”dikepung” serangkaian amukan si jago merah. Kebakaran paling banyak terjadi di pemukiman dengan penyebab mayoritas berupa hubungann arus pendek. Kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Fire Chief Damkar PT Djarum Kudus Hardi Cahyana, mengemukakan, banyaknya kasus kebakaran diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak dengan tidak melakukan perulangan kesalahan yang sama.
”Kerugian material cukup besar, mungkin selama 2014 lebih dari Rp 5 miliar,” katanya.
Pembelajaran yang perlu dicermati yakni soal kondisi kelistrikan di rumah warga. Pihaknya berulangkali mencatat kebakaran yang terjadi akibat jaringan kelistrikan yang sudah terlalu lama.
”Akibatnya, material menjadi aus dan memicu kebakaran,” jelasnya.
Hal itu akan menjadi persoalan besar bila terjadi di pusat publik seperti pasar.
Pihaknya menyarankan agar dilakukan pemeriksaan berkala pada jaringan kelistrikan baik di rumah warga maupun pusat publik.
Pembelajaran kedua yakni kecepatan merespon informasi soal kebakaran. Di PT Djarum, sekitar 1.600 buruh sudah dididik menjadi emergency respon tim (ERT).
Tugas ERT yakni menyampaikan informasi kebakaran kepada pihak terkait baik perusahaan maupun aparat keamanan. Semakin cepat informasi disampaikan, dimungkinkan potensi kerugian akan dapat ditekan.
”Di lapangan kami juga sering menjumpai pihak yang tidak membantu proses pemadaman tetapi justru hanya menonton saja,” paparnya.

terkait soal sarpras, di Kota Keretek saat sekarang terdapat 30 unit mobil pemadam baik milik PT Djarum, Pemkab, Nojorono, Pura Group, dan Sukun. Jumlah tersebut dinilai sudah lebih dari mencukupi. Persoalannya, tidak semuanya dapat masuk ke kawasan sempit seperti gang-gang kecil. Solusinya, diusulkan penyediaan alat pemadam api berat yang dapat mengangkut cairan sebanyak 25 kilogram.(JN04)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *