Tohari Tekankan Orientasi Pendidikan Tradisional

  • Whatsapp
image
Ahmad Tohari, foto: antaranews.com

 

Kudus, Jowonews.com – Pendidikan nasional di tanah air, mengalami probelm yang sangat kompleks, yang membutuhkan pemecahan masalah yang serius. Apalagi, saat ini menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Bacaan Lainnya

Pengamat pendidikan Darmaningtyas mengutarakan, berbagai problem mendasar kebijakan pendidikan nasional saat ini antara lain kehilangan arah karena meninggalkan budaya bangsa, terlalu akomodatif terhadap pengaruh asing (internasionlisasi sekolah), dan pragmatis – liberalistik.

‘’Pendidikan mestinya merupakan proses ‘produksi’ kesadaran kritis, seperti menumbuhkan kesadaran kelas, gender, dan kultur,’’ ujarnya dalam seminar ‘Melestarikan Nilai-nilai Budaya dalam Pendidikan’ yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK), Selasa (24/2/2015).

Dalam seminar yang dihadiri tak kurang dari 300 peserta yang terdiri atas pelajar dan mahasiswa dari Kudus, Pati, dan Jepara itu, Darmaningtyas pun menyitir sebuah tesis yang pernah dikemukakan Ki Hajar Dewantara.

”Pendidikan harus berakar pada kebudayaan, yaitu dalam garis-garis adab kemanusiaan seperti terkandung dalam pelajaran agama. Maka pendidikan dan pengajaran nasional (harus) bersendi kepada agama dan kebudayaan bangsa, serta menuju ke arah keselamatan dan kebahagiaan masyarakat,” ungkapnya.

Dalam seminar di auditorium kampus UMK yang dibuka Rektor Dr. Suparnyo SH. MS. itu, dia pun mengingatkan, bahwa untuk menumbuhkan karakter, bisa dengan membaca buku-buku karya sastra.

‘’Guru-guru mendatang, apalagi jika MEA jadi, kalau tidak suka membaca, sudah, lewat. Pesaing Anda dari luar, itu suka membaca. Semua negara dari luar, mewajibkan (membaca) sekian buku sastra. Hanya di Indonesia yang tidak ada,’’ paparnya.

Budayawan Ahmad Tohari pada kesempatan itu menekankan untuk mengingat tiga orientasi pendidikan tradisional Indonesia masa dulu, yakni berorientasi keselamatan, menghargai proses, dan memosisikan keluarga sebagai basis pendidikan.

‘’Pendidikan di Indonesia itu berbeda dengan orientasi pendidikan di Barat, yang hanya ingin menang dalam persaingan, humanis-universal dan cenderung liberalistik,’’ jelasnya.

Dia mengutarakan, pendidikan tradisional di tanah air itu, menghargai proses dan menempatkan keluarga dalam posisi sentral dalam pembelajaran. ‘’Kalau ini tidak dilakukan, agar pendidikan karakter bisa diinternalisasikan di sanubari generasi bangsa. Kalau tidakm maka menjadi malapetaka pendidikan,’’ ujarnya.

Terkait karakter ini, Tohari memberi contoh tokoh-tokoh bangsa yang tidak sekadar  cerdas, tetapi memiliki karakter kuat. ‘’Kita memiliki tokoh-tokoh besar seperti Bung Karno, Bung Hatta, Wachid Hasyim, dan Ki Hajar Dewantara. Mereka tidak sekadar cerdas, tetapi kuat karakternya. Ki Hajar, misalnya, pernah mengenyam pendidikan di Eropa, tetapi karakternya sangat terjaga,’’ paparnya.(JN04)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *