Tikus Merajalela, TNI-Petani Lakukan Gropyokan

  • Whatsapp

hama-tikus-sawah

BOYOLALI,Jowonews.com – Upaya memberantas hama tikus yang menyerang tanaman padi dilakukan secara serentak di sejumlah desa di Kecamatan Sawit, Boyolali Jumat (27/2) pagi. Aparat dari Kodim 0724/Boyolali, Polsek Sawit dan masyarakat bahu-membahu melakukan gropyokan tikus, yang telah menyerang sawah sejak satu tahun terakhir.

Bacaan Lainnya

Gropyokan tikus dilaksanakan antara lain di Desa Bendosari, Kateguhan, Gombang dan Jatirejo di wilayah Kecamatan Sawit. Sejak pagi, warga dan petugas TNI serta Polri itu sudah berada di sawah yang menjadi lokasi gropyokan. Menggunakan peralatan tradisional seperti cangkul, pentungan dan sabit mereka memburu hewan pengerat tersebut.

Selain itu, dalam gropyokan itu juga membawa peralatan pengempos serta tiram bantuan Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Boyolali. Tiram setelah dinyalakan langsung dimasukkan ke lubang tikus. Lubang kemudian ditutup agar asap memenuhi lubang.

“Sehingga tikus yang bersarang di lubang mati,” ujar Camat Sawit, Widodo, yang juga ikut dalam kegiatan itu.

Dijelaskan, selain gropyokan tikus, gotong-royong tersebut juga melakukan pembersihan saluran air dari rumput liar. Sehingga saluran irigasi bersih dan tidak digunakan untuk bersarang tikus. “Asal ada kemauan, saya yakin pasti hama tikus bisa dikendalikan,” katanya.

Diakui, penanganan hama termasuk hama tikus mengalami kendala karena petani enggan menerapkan pola tanam serempak. Akibatnya, hama terus menyerang karena habitat untuk berkembang biak senantiasa tersedia. Hama bisa dengan mudah beralih ke hamparan sawah lain yang belum dipanen.

Menurut dia, di wilayah Kecamatan Sawit luasan areal sawah yang diserang tikus merata di 12 desa. Gropyokan hama tikus ini dilakukan juga dalam upaya menjaga ketahanan pangan.

Salah satu petani warga Desa Bendosari, Darsono, mengatakan serangan hama tikus terjadi sejak setahun terakhir. Akibatnya, petani mengalami gagal panen. “Kerugiannya besar. Jika panen bagus, satu patok (3.000 m2) bisa laku minimal Rp 6 juta,” kata Darsono yang juga perangkat Desa Bendosari ini.(JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *