Banjir Kanal Timur Perlu Dinormalisasi

  • Whatsapp

banjirSEMARANG, Jowonews.com – Program normalisasi Kali Banjirkanal Timur mendesak untuk dilaksanakan. Hal itu untuk mengurangi beban banjir dan rob pada sistem drainase wilayah Semarang tengah. Apalagi saat ini, sedimentasi di sungai Banjirkanal Timur sudah sangat memprihatinkan.

Kabid Perencanaan Bappeda Kota Semarang, M Farchan mengatakan, akhir 2014 lalu Pemkot Semarang telah mengajukan permohonan ke Gubernur Jateng guna pembuatan studi Aman Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dan Land Acquisition and Resettlement Action Plan (LARAP). 

Bacaan Lainnya

“Kewenangan dalam pembuatan Amdal serta LARAP ada di Pemerintah Provinsi Jateng, sebagai syarat yang harus dilalui dalam rencana normalisasi Banjirkanal Timur,” katanya.  Pembangunan fisik Waduk Jatibarang, normalisasi Banjirkanal Barat, dan penataan drainase perkotaan yang telah selesai dilaksanakan, harus dikuti dengan normalisasi Banjirkanal Timur.

Hal itu sebagai upaya mengurangi beban banjir dan rob pada sistem drainase Semarang tengah, dengan catchment areanya merupakan pusat pemerintahan dan pusat pertumbuhan ekonomi. Selain itu kepadatan penduduk di wilayah tersebut juga sangat tinggi.

“Dengan pengajuan permohonan yang telah dikirim Pemkot Semarang sejak November 2014, di tahun 2015 ini yang bisa dilaksanakan kemungkinan adalah identifikasi/inventarisasi masalah serta persiapan solusinya. Jika studi itu selesai di 2015, DED, LARAP dan Amdal diharapkan bisa dikerjakan 2016. Sehingga 2017 atau 2018 normalisasi bisa dilaksanakan,” tegasnya. 

Dijelaskan, Banjirkanal Barat dan Banjirkanal Timur merupakan paket solusi mengantisipasi banjir dan rob yang disiapkan Pemerintah Kolonial Belanda. Tapi persoalannya, dalam perjalanan setelah pembangunan sekitar tahun 1858 (Banjirkanal Timur) dan 1901-1904 (Banjirkanal Barat), ada pergeseran dalam pemanfaatan. Pada awalnya kedua drainase induk itu hanya difungsikan sebagai aliran luapan banjir dari Gunung Ungaran ke laut Jawa. Sesuai rencana, kedua sungai itu tak digunakan untuk pembuangan air yang berasal dari dalam Kota Semarang. 

“Sekarang permasalahan menjadi lebih parah karena Banjirkanal Timur mengalami sedimentasi yang sangat tinggi. Sehingga kapasitas alur sungai menjadi berkurang. Selain itu ada penyempitan bantaran sungai akibat bangunan liar dari jembatan Citarum sampai jembatan Kaligawe,” tegasnya. (JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *