Ketahanan Pangan Jateng Rapuh, Lumbung Desa Hanya 1.600 Yang Aktif

  • Whatsapp
Panen Padi
Panen Padi

SEMARANG, Jowonews.com– Jawa Tengah hingga kini masih kekurangan lumbung pangan masyarakat yang ada di pedesaan. Dari 8.700 desa yang ada di provinsi ini, lumbung masyarakat desa yang aktif  hanya sekitar 1.600 lokasi.

“Persediaan pangan di Jateng ini memang cukup, tapi tergolong rapuh, karena persediaan beras di lumbung masyarakat masih kecil,”  kata Kepala Bidang Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Soenarno di Semarang, kemarin.

Bacaan Lainnya

Sebab, dijelaskan Soenarno, persediaan pangan yang ada itu banyak di tangan pedagang, sehingga mereka punya daya tawar tinggi (bargaining) dalam menentukan harga di pasaran.  “Memang cadangan pangan itu ada di pemerintah, penggilingan dan masyarakat. Namun yang ada di masyarakat  banyak yang berada di pedagang,” bebernya di Semarang, kemarin. 

Dikatakan dia, para pedagang beras di Jateng posisinya saat ini cukup kuat, karena mengusai mayoritas persediaan pangan yang ada. Namun, pemerintah juga tidak mengatahui jumlah total cadangan beras yang ada di tangan pedagang tersebut.

Menurut Soenarno, kalau ingin ketahanan pangan di Jateng itu kuat, seharusnya memperbanyak lumbung masyarakat yang ada di desa-desa, Idealnya, lanjut dia, dari jumlah 8.700 desa yang ada di provinsi ini, paling tidak 50% dari jumlah desa itu memiliki lumbung pangan masyarakat. Sehingga ketika, harga beras beranjak naik, persediaan itu bisa dikeluarkan. “Biasanya kalau paceklik persediaan beras itu dikeluarkan, kalau sedang panen raya dipasok lagi,” imbuhnya.

Ironisnya lagi, dari 1.600 lumbung masyarakat aktif itu yang dibina oleh pemerintah tahun ini hanya 292 lumbung. Rinciannya 40 lumbung dibina melalui dana APBD Pemprov Jateng, sedangkan 252 lumbung dibantu dengan anggaran APBN. Setiap lumbungnya dibantu Rp20  juta.

Dikatakan Soenarno, kebutuhan beras warga Jateng saat ini mencapai 266.750 ton per tahun, Dengan perhitungan, konsumsi setiap warga sebanyak 97 kg/ per kapita/ tahun. Ia mengklaim, cadangan pangan Jateng masih sampai September 2015. “Cadangan yang ada di tangan pemerintah sekitar 10%,  yang milik masyarakat itu kira-kira cukup sampai September, yang di pedagang di jualbelikan, begitu juga yang di penggilingan biasa di pasok ke pedagang,” ujar dia.  

Ketua Komisi B DPRD Jateng, Chamim Irfani mengusulkan agar pemerintah provinsi Jateng memperbanyak lumbung-lumbung yang ada di masyarakat. Dengan harapan ketahanan pangan di Jateng tidak rapuh. “Perseberan stok beras di masyarakat juga saya minta didata dan dimonitor,” kata dia.
 
Politikus PKB Jateng ini menambahkan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan diminta memetakan pedagang beras yang ada di wilayah ini, agar keberadannya bisa terpantau. “Dinas perdagangan barangkali punya, dalam waktu yang akan datang akan kami minta data itu,” kata dia.

Menurut dia, adanya kekurangan dan kelebihan beras di Jateng itu sebenarnya siklus tahunan. “Kalau memang ini siklus tahunan, seharusnya sudah bisa dibaca, dengan demikian harus bisa diantisipasi,” imbih Chamim. (JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *