DPD Dukung Semarang Ada Trans Studio

  • Whatsapp

dpd-ri

SEMARANG – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Tengah, H Akhmad Muqowam, menyatakan mendukung pembangunan Trans Studio di Kota Semarang. Namun berharap pemkot mempertimbangkan kembali lokasi di Wonderia kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Sementara seniman dan budayawan yang menolak juga diharapkan merenungkan kenapa kompleks TBRS menjadi pilihan investor.

Muqowam mengatakan, seniman dan budayawan yang menolak pembangunan Trans Studio di kompleks TBRS, sebaiknya melakukan kontemplasi atau perenungan. Itu untuk mengerti latar belakang dari keinginan pemkot dan investor mengakuisisi sebagian lahan TBRS untuk dijadikan Trans Studio.

Lokasi di kompleks TBRS itu memang cukup strategis. Tapi secara moralitas dan sosiologis, para seniman harus memandang bahwa rencana pembangunan di lokasi TBRS itu, juga menunjukkan mereka perlu melakukan kontemplasi atau perenungan.

‘’Barangkali bagi penentu kebijakan di Kota Semarang, keberadaan TBRS ini juga dianggap kurang optimal. Oleh karena itu dengan kejadian ini harus sebagai koreksi dan kontemplasi. Para seniman dan budayawan sebaiknya memadang bahwa berkaitan dengan seni dan budaya juga perlu untuk meningkatkan kualitasnya,’’  ungkapnya di sela-sela menghadiri acara debat calon rektor Undip 2015 di Undip Tembalang, Kamis (12/3/2015).

Sekeretaris Jenderal DPP Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Undip itu, mengatakan pemkot sebaiknya juga harus mempertimbangkan untuk menjadikan TBRS sebagai Trans Studio. Saat ada resistensi atau penolakan, sebaiknya pemkot juga mencarikan lahan lain yang lebih luas. Bisa di tempat-tempat yang sekiranya tidak menimbulkan kontradiktif atau pertentangan dari para seniman dan budayawan.

‘’Sebaiknya pemerintah juga mempertimbangkan ketidak setujuan para seniman untuk menjadikan area TBRS itu sebagai Trans Studio. Jadi sebaiknya pemerintah daerah mencarikan lahan lain untuk dikerjasamakan dengan pihak ketiga atau investor itu,’’ katanya.

Bagaimana jika sinergi antara Trans Studio dengan tempat berkreasi para seniman? Menurut Muqowam, hal semacam itu entitas atau kemistrinya berbeda. Ia tetap menilai sebaiknya pemkot mencarikan lahan lain untuk dikerjasamakan dengan pihak investor yang akan membangun Trans Studio.

‘’Karena Semarang ini dari lama saya lihat, tempat-tempat strategis diberikan kepada pihak swasta, ini menurut saya nggak benar. Coba lihat bagaimana keindahan Simpanglima sekarang sudah habis sama sekali. Dulu Simpanglima sebegitu indahnya, ada tempat nongkrong, olahraga, bersendagurau para keluarga. Tapi hari ini semua area itu sudah digunakan untuk fungsi-fungsi privat, tidak lagi fungsi publik,’’ terangnya.

Dia mengaku mengerti bahwa para pengusaha memang yang paling penting adalah letak dan view yang sangat bagus. Tapi Pemkot Semarang diharapkan belajar dari lahan-lahan yang selama ini digunakan membangun, pada akhirnya kemudian merugikan kepentingan publick. Dalam hal ini baik kepentingan udara, sprot atau olahraga, mapun kepentingan untuk estetis yang menjadi hilang.

‘’Saya kira opsi yang paling bagus adalah silakan Pemkot Semarang cari lahan untuk dikerjasamakan. Karena masih banyak seperti di Gunungpati, di arah timur ada, arah Boja juga ada. Saya kira masih banyak lahan-lahan sambil juga memberikan porsi keramaian kepada dinamika ekonomi yang ada di luar kota ini,’’ tegasnya.(JN06)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *