Bulog Disarankan Simpan Gabah, Bukan Beras

  • Whatsapp
Ilustrasi Raskin. (Foto : Pacitanku)
Ilustrasi Raskin. (Foto : Pacitanku)
Ilustrasi Raskin. (Foto : Pacitanku)
Ilustrasi Raskin. (Foto : Pacitanku)

SEMARANG, Jowonews.com – Sekretaris Komisi B DPRD Jateng  Messy Widiastuti minta supaya Bulog Jateng bisa memperbaiki manajemen pengelolaan beras untuk orang miskin (Raskin) dengan sedikit inovasi.

Beras yang dibeli pertama, maka harus dikeluarkan terlebih dahulu. Disamping itu Bulog tidak melakukan penyimpanan beras, tapi gabah yang dibeli dari petani. Sehingga beras yang diberikan kepada masyarakat dalam kondisi baik dan layak konsumsi.

Bacaan Lainnya

”Bulog juga perlu melakukan manajemen yang baik dalam distribusi beras, agar  masyarakat tidak sampai menghakimi Bulog, lantaran beredar beras tidak layak konsumsi,”ungkapnya.

Hal itu diungkapkan Messy Widiastuti dalam Prime Topic di Executive Lounge Lt 6 Hotel Horison, Jl KH Ahmad Dahlan, Semarang, Senin (23/3). Tampil sebagai pembicara selain Messy adalah Wakil Kepada Divre  Bulog Jateng,  Siti Kuwati dan Pengamat Ekonomi dari UKSW Salatiga Daniel D Kameo.

Menurut Messy, dengan pengelolaan manajemen yang baik, bisa memperbaiki apa yang telah dilakukan Bulog selama ini. Rakyat juga bisa menerima beras yang layak konsumsi. Tidak seperti sekarang ini, raskin yang diterima masyarakat banyak yang berkutu, lembek, sudah pecah-pecah dan berwarna kuning.

Wakil Kepada Divre  Bulog Jateng,  Siti Kuwati menyampaikan yang dilakukan Bulog secara operasional adalah menyerap, menyimpan dan mendistribusikan.

Dalam penyerapan sudah ada SOP-nya sesuai Inpres. Dalam peneyerapan beras, Bulog juga melakukan survei. Dimana sempelnya adalah 5%.

“Kalau di Jateng ada jatah beras raskin 500 ribu ton, dipastikan 5 persennya sudah baik. Sehingga secara keseluruhan 500 ribu ton juga sudah baik,”katanya.

Dalam penyimanan juga sesuai SOP dengan melakukan monitoring dan pengendalian terhadap hama.”Di Jateng 43 gudang penyimpanan, cara pemeliharaan adalah dengan penyemprotan tiap 3 bulan,”katanya.

Sementara ketika raskin disalurkan, Bulog memberi garansi bahwa beras layak konsumsi. Kalau ada yang tidak layak, Bulog siap mengganti dengan biaya ditanggung Bulog.

“Memang tidak menutup kemungkinan ada yg jelek. Tapi tidak bisa digeneralisasi semua jelek. Kita jamin raskin layak konsumsi,”tukasnya.

Sementara itu Pengamat Ekonomi dari UKSW Salatiga Daniel D Kameo mengaku memiliki pemikiran supaya beras untuk orang miskin (raskin) menjadi beras sejahtera.

“Sebab dalam kultur kita, bahasa pengaruhi psikologi, tindakan dan kebijakan. Sehingga kalau raskin tidak terlalu penting. Sehingga beras jelek tidak apa-apa,”katanya.

Menurutnya, nama raskin sudah 17 tahun sejak 1997/98 untuk membantu warga sejahtera dan pra sejahtera. “Kalau hari ini ngomong beras raskin, harusnya tidak ada lagi yang tidak layak konsumsi. Harusnya 17 tahun Bulog sudah profesional dan sudah mantap salurkan beras,”katanya.

Daniel juga mengusulkan kalau pemerintah sudah tidak perlu membantu masyarakat dalam bentuk natural. Tapi harus lewat uang tunai

“Kalau ngomong Jateng memang dekat. Tapi kalau Papua kan lain dan itu sangat jauh. Padahal Bulog hanya tanggungjawab sampai titik distribusi, bukan titik pembagian. Oleh karena itu bantuannya lewat tunai. Sehingga akan berdampak luar biasa pada kesejahteraan rakyat.(JN01)

Editor : Iwud

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *