Pakar : Game Mendidik untuk Anak Perlu Dikembangkan

  • Whatsapp

gameKUDUS, Jowonews.com –  Garibaldy Wibowo Mukti, Chief Marketing Officer (CMO) dan Lead Game Designer PT. Nightspade menyampaikan bahwa tidak selamanya benar pernyataan yang mengemukakan, bahwa anak yang bermain game itu adalah anak malas. Tinggal bagaimana seseorang melihat game dan siapa yang menggunakannya.

Hal itu disampaikan oleh Garibaldy saat berbicara dalam seminar nasional bertajuk ‘’Education Game for Future Education of Indonesia’’ di auditorium kampus Universitas Muria Kudus, Senin (23/3/2015).

Bacaan Lainnya

‘’Game bukan sekadar video game, tetapi banyak hal. Bermain catur, itu game. Main bulutangkis, juga game. Bahkan, kehidupan sendiri adalah sebuah game yang memiliki misi, tujuan, dan lain sebagainya,’’ ujarnya dalam seminar yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa (Hima) Program Studi Teknik Informatika (Progdi TI) Fakultas Teknik UMK.

Dia mengutarakan, bahwa game bisa dimainkan oleh siapa saja dari segala usia. ‘’Game itu hanyalah alat. Jadi, manfaat atau tidaknya, tergantung siapa pemakainya. Ibarat pisau, jika digunakan oleh chef profesional, maka menjadi alat  menghasilkan  makanan yang lezat. Tetapi, bagaimana jika pisau dipegang anak yang baru berumur tiga tahun?’’ ungkapnya.

Apakah ada game yang memiliki nilai-nilai edukatif (pendidikan)? ”Secara implisit banyak game memiliki nilai-nilai edukatif. Seperti Worms, SimCity, Trauma Center; Second Opinion, Besiege, dan Countastic,” paparnya memberi contoh.

Gery –sapaan akrab Garibaldy Wibowo Mukti- pun menjelaskan, agar game memiliki nilai edukatif, maka harus dirancang secara matang dalam konsep sebelum game itu dibuat. ‘’Ini tantangan para develop game ke depan,’’ tutur alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) i ni.

Dekan Fakultas Teknik UMK Rochmat Winarso ST. MT. dalam seminar yang merupakan rangkaian ITFest 2015, berharap agar para mahasiswa dan dosen tergerak untuk mengembangkan game-game edukatif. Pasalnya, selain bermanfaat bagi dunia pendidikan, juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

‘’Kami berharap, setelah seminar ini para mahasiswa tergerak untuk mengembangkan game. Game ini sangat menarik, tetapi butuh ketekunan dan kreativitas tinggi,’’ tegasnya di depan lebih dari 250 mahasiswa yang hadir.

Ahmad Jazuli M.Kom., ketua Progdi TI Fakultas Teknik UMK, mengutarakan hal senada. ‘’Selain meningkatkan kreativitas, game juga akan mendatangkan pendapatan jika ditekuni. Persoalan yang harus dijawab kemudian adalah, bagaimana agar bisa membangun game yang menarik, mendidik, dan bisa diterima masyarakat,’’ katanya. (JN04)

Editor : Iwud

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *