Jalur Dieng Belum Ditangani: Pengaruhi Jumlah Wisatawan

  • Whatsapp
Upacara adat di Dieng
Upacara adat di Dieng

WONOSOBO, Jowonews.com – Kerusakan Jalur menuju kawasan objek wisata Dieng  akibat longsor pada Desember lalu, hingga saat ini belum terlihat adanya upaya perbaikan. Bahkan di jalan utama di kilometer 21 di Desa Tieng, Kejajar tepatnya  dekat gardu pandang, masih diberlakukan sistem  buka tutup dan dijaga dua orang.

Banyak pengguna jalan, khususnya roda empat merasa waswas saat melintasi jalur tersebut karena kemungkinan longsor yang lebih parah masih bisa terjadi. Jalur tersebut juga merupakan jalan terdekat untuk menuju wilayah Batur, Banjarnegara yang bersebelahan langsung dengan Wonosobo.

Bacaan Lainnya

“Kebetulan saya setiap hari melewati jalur ini karena tempat kerja saya berada di daearah Garung. Yang paling membuat saya waswas ketika sore dan malam hari dimana suasana kabut tebal dan gelap, terlebih wisatawan luar daerah yang belum pernah lewat harus diperingatkan dari bawah jika tidak ada penjaga,” tutur Wardi yanto, warga setempat yang memiliki usaha di pasar Garung.

Wardi melihat sendiri bagaimana repotnya mengatur jalur tersebut ketika akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu, yakni saat volume wisatawan yang menuju Sikunir meningkat.“Kalau dari pihak provinsi belum ada solusi, harapan kami (warga) paling tidak ada prioritas untuk keselamatan pengguna jalan dan kami kadang kasihan pada penjaga jalur ketika hujan deras dan cuaca buruk. Jika tidak dijaga juga bahaya,” imbuhnya pada Minggu (29/3).

Sementara itu, truk dengan muatan berat yakni 8 ton masih dilarang melalui jalur tersebut seperti yang diberlakukan tiga bulan sebelumnya.

Menurut Ikhu, salah satu penjaga buka tutup jalur, beberapa kendaraan wisata yang awalnya sering naik turun juga berkurang. “Sejak ada longsor dan diberlakukan buka tutup jalur, mereka yang dari arah Wonosobo lebih banyak yang menggunakan kendaraan pribadi dan lebih banyak lagi yang memakai sepeda motor. Menurut warga setempat, jalur  Batur Banjarnegara yang menuju kawasan Dieng lebih ramai,” tutur Ikhu.

Menurut pantauan Ikhu, belum diperbaikinya jalur tersebut selain berimbas pada jumlah wisatawan yang lalu lalang, juga menyulitkan petani setempat. Pasalnya para petani kentang yang ada di area atas Ting juga menjadi terbebani dengan adanya kerusakan jalur tersebut. Salah satunya karena jenis kendaraan muatan barang bermuatan berat yang tidak bisa membawa hasil tani dari atas menuju kota. (JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *