Mangkrak, Gedung Ayam Salatiga

  • Whatsapp

wpid-salatiga-city-of-harmony-2.png
Salatiga, Jowonews.com – Mangkrak, demikian yang terjadi atas gedung  senilai ratusan juta rupiah yang dibangun pemerintah kota Salatiga. Gedung yang di kenal dengan nama Geduang Ayam semula direncanakan untuk menampung dan tempat berjualan para pedagang ayam. Mangkrak, karena para pedagang lebih memilih berjualan diluar gedung, sedang gedung utama tersebut hanya digunakan untuk menyimpan lapak pedagang.
Saat gedung senilai ratusan juta itu selesai dibangun tahun 2008 silam, Dinas Pasar Kota Salatiga saat itu mewajibkan semua pedagang daging ayam berjualan di dalam gedung itu. Namun kebijakan itu hanya dipatuhi beberapa bulan saja oleh pedagang. Mereka akhirnya memilih berjualan di pinggir jalan.
Diduga pemicunya, saat itu ada salah seorang pedagang ayam yang enggan masuk ke gedung itu, karena sudah punya kios sendiri ( bukan PKL). Hal ini menimbulkan kecemburuan, hingga akhirnya para pedagang mimilih berjualan di luar. Selain itu para pedagang juga berdalih, berjualan di dalam gedung sepi. “ Selain itu lapaknya juga sempit dan sumpek, sehingga tidak nyaman untuk berjualan. Daging juga mudah busuk karena di dalam gedung lembap,” ujar pedagang yang enggan dikorankan.
Terkait dengan mangkraknya gedung los ayam itu, anggota Komisi C, Suniprat mengaku sangat menyayangkan gedung senilai Rp 700 juta itu tidak difungsikan. Namun demikian, ia memaklumi sikap para pedagang yang tidak mau menempati bangunan itu.
“ Dari keterangan para pedagang, mereka tidak mau menempati karena bangunan tersebut tidak pas untuk berjualan daging ayam. Karena mestinya terbuka ( bukan gedung tertutup) sehingga lembap dan bau,” ujar Suniprat kepada Jateng Pos, Kamis (9/4) kemarin.
Dikatakan dia, Dinas Pasar harus mendesain kembali bangunan itu supaya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para pedagang. “ Menurut saya, baiknya bangunan itu los terbuka, sirkulasi udara bisa lancar sehingga tidak bau,” imbuhnya. Dikatakan dia, bila bangunan itu tidak nyaman untuk berjualan, pembeli pun juga enggan untuk membeli sehingga menjadi sepi.
Dikatakan dia, pihaknya sudah beberapakali memberi masukan kepada Kepala Dinas Pasar, baik saat dijabat Sri Danudjo maupun pejabat sekarang ini Muthoin. “ Saya sudah beri masukan untuk memfungsikan kembali bangunan untuk pedagang daging ayam itu,” ujarnya. Menurut Suniprat, bila gedung itu akan di desain kembali, hendaknya melibatkan pedagang, karena merekalah yang akan memakai dan mengetahui situasinya. “ Jadi jangan asal nurut yang mbangun ( eksekutif maupun rekanan), perlu koordinasi dengan pedagang,” imbuhnya (JN01).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *