Kepadatan Penduduk Jateng Hampir Tidak Normal

  • Whatsapp

pendudukSEMARANG, Jowonews.com– Kepadatan penduduk Jawa Tengah saat ini dinyatakan hampir tidak normal. Saat ini rata-rata kepadatan penduduk Jateng mecapai 995 jiwa per kilo meter persegi. Padahal rata-rata nasional hanya 124 jiwa per kilo meter persegi.

 “Bahkan di Surakarta rata per kilo meter persegi mencapai 11 ribu jiwa. Padahal, normalnya setiap kilo meter persegi itu maksimal 1.000 jiwa,” kata Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional (BKKBN), Jateng, Tjondrorini di sela acara rapat koordinasi tentang program kependudukan, keluarga bencana dan pembangunan keluarga Jateng di Semarang, Rabu (6/5).

Bacaan Lainnya

 Diakui Rini, kepadatan penduduk di Jateng memeng tidak merata, daerah yang paling padat adalah Surakarta, sedangkan yang paling tidak padat adalah Blora, dengan kedapatan 450 jiwa per kilo meter persegi. “Daerah yang kepadatannya melebihi normal akan kami lakukan penggarapan secara khusus,” imbuhnya.

Dipastikan Rini, jumlah penduduk di Jateng akan terus meningkat seiring dengan terus bertambahnya kelahiran anak. Bahkan masih ditemukan warga yang melahirkan di usia sekolah. Saat ini tingkat kelahiran anak mencapai 2,5 anak per wanita subur. “Seharusnya untuk melahirkan anak itu harus sudah masuk usia matang,” imbuhnya.

Menurut Rini, cepatnya laju pertumbuhan penduduk akan berpengaruh terhadap kondisi lingkungan, sosial, dan ekonomi. Kebutuhan akan pangan, energi, air, dan permukiman juga akan terus meningkat. Sementara, katersediaan lahan jelas terbatas.

Hingga kini, Jawa Tengah masih menjadi provinsi penyangga dengan jumlah penduduk terbesar ketiga se Indonesia setelah Jabar dan Jatim. Sehingga, pencapaian program pengendalian penduduk di provinsi ini sangat berpengaruh terhadap skala nasional. “Jateng memiliki berbagai permasalahan sekaligus tantangan dalam hal kependudukan, mekipun jumlah penduduk Jateng sudah mencapai 32.444.065 jiwa, tapi angka kelahiran total cenderung terus mengalami peningkatan,” imbuh Rini.

 Dijelaskan Rini, stagnannya program kependudukan, keluarga bencana dan pembangunan keluarga itu salah satu faktornya adalah melemahnya program di lapangan dan semakin berkurangnya jumlah petugas kapangan KB. Oleh karena itu,  penguatan lini lapangan menjadi strategi utama yang akan dijalankan pada 2015 ini.

 BKKBN akan mendorong pengarusutamaan program kependudukan, keluarga bencana dan pembangunan keluarga agar diprioritaskan dalam program mulai tingkat desa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *