Konflik Keraton Jogja: Kerabat Keraton Wait and See

  • Whatsapp
Suasana penjelasan sabda raja jogja . (Foto: JN13)
Suasana penjelasan sabda raja jogja . (Foto: JN13)
Suasana penjelasan sabda raja jogja . (Foto: JN13)
Suasana penjelasan sabda raja jogja . (Foto: JN13)

Semarang, Jowonews.com – Kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat masih wait and see terkait dengan penjelasan sabda raja yang dilakukan oleh Sultan Hamengku Bawono X. Hal ini dikatakan akademisi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Sujito pada hari Jumat (08/05).

Menurut Ari, hal ini ditandai dengan ketidak hadiran para kerabat sultan yang sempat melakukan protes terhadap sabda dan dawuh raja. “Hingga kini masih wait and see, karena adik-adik sultan tidak hadir pada konferensi pers hari ini” kata Ari Sujito.

Bacaan Lainnya

Ari menyampaikan, penjelasan Sultan ini belum sepenuhnya menjawab keresahan kerabat keraton. Bahkan Apa yang dilakukan sultan hari ini hanya bersifat klarifikatif yang satu arah. Dalam rentang waktu kedepan Ari berharap adanya upaya konsolidasi yang dilakukan sultan kepada para kerabatnya. “Langkah untuk mensolidkan internal keraton merupakan tahap awal sebelum melakukan upaya perubahan UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang keistimewaan Yogyakarta” jelas Ari.

Lebih lanjut, Ari menjelaskan langkah konsolidasi harus segera dilakukan Sultan selaku gubernur dan bagian dari keluarga keraton agar roda pemerintahan di DI Yogyakarta dapat berjalan dengan baik. Ia pun meminta masyarakat Yogyakarta untuk tidak ikut serta dalam blok manapun serta menunggu keputusan pemerintah pusat.

Seperti diketahui, Sri Sultan Hamengkubuwono X memberi penjelasan tentang sabda raja kepada sejumlah masyarakat, unsur pemerintahan Yogyakarta, dan pers, Jumat (8/5/2015) sore. Sultan menjelaskan perubahan gelar yang disandangnya dari Buwono menjadi Bawono, Sri Sultan menuturkan Buwono jika diartikan “jagat alit” atau mencakup hal yang kecil, Bawono artinya “jagad besar” mencakup hal yang besar.

Sedangkan hilangnya gelar Khalifatullah menurut Sultan dirinya hanya menyampaikan dhawuh atau perintah dari leluhur dan Tuhan Yang Maha Esa, tidak lebih dari itu. (JN13)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *