Alasan Pengrajin Batik Enggan Gunakan Pewarna Alam

  • Whatsapp

batik-pekalonganSemarang, Jowonews.com – Sejumlah pengrajin mengaku enggan memproduksi batik dengan pewarna alam karena proses pembuatannya yang tidak mudah dan memakan waktu lama.

“Proses yang memakan waktu lama yaitu saat membuat pewarna alami karena harus merebus bahan yang diperlukan hingga airnya jauh berkurang,” kata salah satu pengrajin batik Banjarnegara Murtia saat ditemui di pameran UMKM Java Supermal Semarang, baru-baru ini.

Bacaan Lainnya

Untuk proses pembuatannya, jika batik berbahan baku pewarna sintetis cukup membutuhkan waktu satu minggu, untuk batik pewarna alam membutuhkan waktu hampir dua minggu. Mengenai persediaan bahan, diakuinya tidak terlalu sulit karena ada beberapa di antaranya yang bisa ditemukan di lingkungan sekitar, tetapi ada sebagian yang harus didatangkan dari luar kota salah satunya dari Solo.

Untuk beberapa bahan yang bisa ditemukan di lingkungan sekitar yaitu kayu mahoni yang menghasilkan warna merah kecoklatan, daun jati dan kulit bawang merah yang juga memberikan warna merah, dan daun mangga yang memberikan warna hijau.

Untuk kayu mahoni, daun jati, dan kulit bawang meskipun sama-sama memberikan warna merah namun jenis warna merah yang dihasilkan tidak sama. Untuk perebusan bahan tersebut memakan waktu tidak sebentar. Untuk bahan baku yang didatangkan dari Solo di antaranya daun jolawe dan tingi. Menurutnya, dari sisi harga memang murah tetapi karena harus mendatangkan dari luar daerah jadi memakan waktu yang cukup lama.

“Karena proses yang sulit itu maka harganya juga tidak murah, untuk satu lembar batik pewarna alam paling murah Rp500 ribu, jadi peminatnya hanya kalangan tertentu. Ini yang membuat kami tidak bisa memproduksi banyak,” katanya. (JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *