Warga Terpaksa Jual Sapi untuk Cukupi Kebutuhan Air Bersih

  • Whatsapp

kekeringanBoyolali, Jowonews.com – Puluhan warga di Desa Lanjaran Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali Jawa Tengah atau di lereng Gunung Merapi menjual sapinya untuk memenuhi kebutuhan air bersih. 

Musim kekeringan juga dirasakan oleh warga di Desa Jemowo Kecamatan Musuk Boyolali, mereka yang mampu dapat membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, warga yang kurang mampu hanya bisa mengandalkan bantuan dari berbagai pihak baik swasta maupun instansi pemerintah.

Bacaan Lainnya

Hal itu terpaksa dilakukan untu mengatasi bencana musim kemarau. “Warga Musuk banyak yang sudah menjual sapinya untuk mengatasi kekurangan air bersih dan membeli pakan hijauan untuk ternak selama musim kemarau hingga saat ini,” kata Darto Kepala Desa Lanjaran, di Boyolali, Minggu (20/9).

Menurut Darto, warga di Desa Lanjaran hampir semuanya memiliki ternak sapi perah, dan sebagian juga sebagai petani sayuran. Pada Musim kemarau saat ini, mereka sudah menghabiskan belasan truk tangki isi 6.000 liter. Meskipun, warga sudah mendapatkan bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten Boyolali, mereka masih kekurangan sehingga harus membeli sendiri untuk kebutuhan sehari-hari seperti masak/minum.

Dikatakan Darto, warga selian kesulitan air bersih, mereka juga harus membeli pakan hijauan untuk ternak sapi perahnya. Selama musim kemarau pakan ternak sudah sulit dicari sehingga terpaksa harus membeli mendatangkan dari daerah lain. “Pakan ternak sangat dibutuhkan, jika tidak sapi perah bisa tidak berproduksi,” katanya.

Menurut dia, akibat musim kemarau beberapa bulan ini, bak penampungan air hujan milik warga sudah habis untuk kebutuhan sehari-hari. Air itu, membeli dengan harga Rp200 ribu per tangki dan tergantung jaraknya. “Air bersih itu, untuk persediaan kebutuhan sehari-hari dan minum ternak sapinya. Stok itu, bisa bertahan lima hingga enam hari. Kita harus lebih hemat,” katanya.

Menurut Kepala Desa Jemowo, Untung Widodo, bahwa Pemerintah Desa Jemowo untuk mengatasi musibah kekeringan terpaksa menyisihkan sebagian anggaran dana desa untuk membeli air bersih.

Menurut dia, bantuan air bersih dari Pemkab Boyolali selama ini belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warganya Oleh karena itu, dana desa yang seharusnya untuk meningkatkan produktifitas daerahnya, tetapi terpaksan digunakan untuk mengatasi sekitar 6.000 warganya yang mengalami krisis air bersih. (JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *