Kemarau Panjang, Stok Pupuk Bersubsidi Melimpah

  • Whatsapp
ilustrasi

kekeringanBOYOLALI, Jowonews.com – Musim kemarau panjang tahun ini mengakibatkan banyak lahan di Boyolali yang mengalami bero. Ini berdampak pula pada serapan pupuk bersubsidi juga rendah. Sehingga stok pupuk kini melimpah. 

Kabid sarana prasarana perlindungan tanaman dan pasca panen, Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Boyolali, Ibnu Sutopo, mengatakan biasanya hingga akhir bulan Agustus serapan pupuk bersubsidi mencapai 80%. Tetapi tahun ini di periode yang sama, serapannya masih jauh dibawah 80%. 

Bacaan Lainnya

“Kita lihat saja lahan pertanian di wilayah Boyolali Utara saat ini banyak yang bero, sehingga berdampak serapan pupuk di wilayah itu rendah wilayah Boyolali utara itu rendah dan stok pupuk di toko–toko melimpah,” kata Ibnu Sutopo Selasa (22/9).

Serapan pupuk di Kabupaten Boyolali hingga akhir Agustus baru, untuk pupuk urea baru mencapai 51,2% atau 14.383 ton. Kemudian ZA sebanyak 5.701,5 ton (70%); jenis pupuk SP 36 serapannya baru   45% dan Phonska sebesar 60% atau 8.336,75 ton. “Serapan paling tinggi untuk jenis pupuk organic yang mencapai 75% atau 3.502,9 ton,” jelasnya. 

Menurut dia, rendahnya serapan pupuk itu dikarenakan pengaruh musim el nino yang berdampak musim kemarau panjang dan banyak lahan pertanian mengalami kekeringan. Sehingga petani tidak menggarap lahannya alias sawah dibiarkan bero. 

Bahkan para pengecer resmi pupuk bersubsidi di wilayah Boyolali utara kesulitan untuk menjual. Namun untuk wilayah kecamatan  Boyolali selatan seperti kecamatan Sawit, Banyudono dan wilayah kecamatan Ngemplak serapan pupuk oleh petani normal. Hal ini karena lahan pertanian di tiga wilayah itu merupakan lahan irigasi teknis yang sepanjang tahun memperoleh suplai air untuk pertaniannya. “Lahan pertanian di Banyudono, Sawit dan Ngemplak bisa menanam padi setahun tiga kali karena sumber air mampu mengairi lahan pertanian yang ada sepanjang tahun,” imbuhnya. 

Lebih lanjut Ibnu menyatakan, Dispertanbunhut kini sedang mendata Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) hingga akhir tahun 2015. Apakah kebutuhan pupuk hingga akhir Desember 2015  bisa tercukupi atau tidak. Jika pada semester dua ini bisa tercukupi, maka tidak mengajukan tambahan kuota pupuk ke Gubernur Jateng. Pasalnya, berdasarkan informasi Kementan 2015  kuota pupuk di Jateng dikurangi. Ini tentu akan mengurangi kuota pupuk di Kabupaten/Kota termasuk Boyolali. 

Diakui, pada semester pertama atau bulan Juli 2015, Pemkab Boyolali mendapat tambahan kuota pupuk urea sebanyak 300 ton menjadi 28.400 ton. Sedangkan pupuk jenis ZA juga ditambah 300 ton menjadi 9.150 ton. Namun SP 36 malah dikurangi 500 ton dari jatah semula 7.500 ton, hanya diberi 7.000 ton. (JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *