Sungai Wulan Tercemari Limbah

  • Whatsapp
Warga Demak mandi di sungai. (Foto : demak-ku.blogspot.com)
Warga Demak mandi di sungai. (Foto : demak-ku.blogspot.com)
Warga Demak mandi di sungai. (Foto : demak-ku.blogspot.com)
Warga Demak mandi di sungai. (Foto : demak-ku.blogspot.com)sungai

DEMAK, Jowonews.com –  Pencemaran di sungai Wulan sudah dangat memprihatinkan. Hal ini sudah beberapa kali dilaporkan ke Pemprov Jateng, namun hingga kini belum ada tindakan apa-apa. Sungai yang melintas dari Kudus menuju Demak tersebut tercemari limbah dari pabrik yang berada di wilayah Kudus.

Warga Desa Jleper Kecamatan Mijen yang sudah tidak tahan dengan polusi air tersebut kemarin ramai-ramai melakukan protes dengan berkumpul di pinggiran sungai. Mereka menyaksikan secara dekat air sungai yang sudah tercemari limbah yang menimbulkan bau busuk mirip bangkai tersebut.

Bacaan Lainnya

Hadir pula Kamzawi, Ketua Fraksi PKS dan Danang anggota Komisi A dari Gerindra. Kepada anggota DPRD,  warga menunjukkan Sungai Wulan yang tercemari limbah.

Menurut Kamzawi Sungai Wulan sudah tidak digunakan warga sejak belasan tahun lalu, atau sejak limbah mulai dibuang di Sungai Wulan. Ada puluhan desa yang menderita begitu Sungai Wulan mulai terkena limbah. Di kecamatan Mijen sendiri ada 50 desa yang merasakannya, dan yang paling terkena langsung dampaknya adalah desa Pasir, Jetak, kemudian di kecamatan Wedung desa Ngelo Kulon, Menco, hingga Babalan terkena dampaknya terutama di perikanan dan pertanian.

Untuk wilayah Mijen, warga terkena dampak berupa air yang tidak bisa lagi digunakan untuk pertanian serta warga tidak bisa menggunakannya untuk air minum dan kebutuhan air lainnya.

Padahal sebelum tercemar,  warga menggunakan air sungai wulan untuk pertanian saat musim kemarau seperti sekarang ini. Warga saat itu membuat gorong-gorong air untuk menyudet air dari sungai wulan ke lahan pertanian mereka. Kini gorong senilai ratusan juta tersebut tidak terpakai dan terbengkalai begitu saja.

“Gorong-gorong itu dipakai petani untuk mengalirkan air dari Sungai Wulan ke lahan pertanian mereka pada saat musim kemarau. Namun sejak sungai tercemar limbah, petani sudah tidak berani lagi mengairi sawah mereka karena dampaknya akan mati tanamannya,” jelasnya.

Sementara itu Pj Kades Jleper Sugiharto mengaku prihatin dengan adanya limbah yang sangat merugikan warga. Sebab bukan hanya merugikan warga pada bidang pertanian dan air minum saja, melainkan adanya tanggul yang longsor, dimungkinkan pengaruh dari limbah. “Bahkan sumur yang lokasinya berada dekat dengan sungai, sudah tidak bisa difungsikan lagi. Karena jika untuk mandi badan akan gatal-gatal, serta tidak bisa dipakai untuk minum dan memasak lagi,” ujarnya didampingi warga lainnya. 

Sementara itu Sidkon salah seorang warga mengatakan sudah 12 tahun ini mereka tidak bisa memanfaatkan air Sungai Wulan. Jika tidak ada rob, maka air akan berwarna hitam pekat karena limbah serta menimbulkan bau seperti bangkai. Kondisi ini membuat air tidak bisa dipakai sama sekali, mulai  untuk pertanian hingga untuk kebutuhan warga sehari-hari. Untuk kebutuhan sehari-hari warga terpaksa membeli air dari Jepara dengan harga per jerigennya Rp 2500,-.

“Jika per harinya satu KK membutuhkan empat jerigen maka diperlukan uang sebesar Rp 10 ribu per harinya untuk membeli air. Jika dikalikan sebulan maka setiap KK harus mengeluarkan uang Rp 300 ribu per bulannya,” katanya.

Sedangkan Nasikun warga lainnya menambahkan bahwa bau busuk dari Sungai Wulan datang tidak kenal waktu. Terkadang pagi, siang, sore, bahkan malam sekalipun, bau busuk kerap tercium dari sungai wulan akibat limbah yang dibuang sembarangan. “Kami berharap pemerintah secepatnya menangani masalah ini, jangan sampai berlarut-larut,” pintanya. (JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *