Kemarau Panjang, Panen Lada Putih Merosot

  • Whatsapp
Jpeg

BOYOLALI,Jowonews.com– Dampak musim kemarau tak hanya kekurangan air bersih saja yang dialami warga Desa Lampar, Kecamatan Musuk, Boyolali. Namun, sebagian warga di perbatasan dengan wilayah Kabupaten Klaten itu juga mengalami gagal panen lada putih atau merica. Pasalnya, sebagian tanaman merambat itu kini kering akibat tak ada air.
“Ada sekitar 25% tanaman lada putih milik warga disini (Desa Lampar) saat ini kering karena tak ada air,” ungkap Kepala Desa Lampar, Dwi Sugiyanto, Kamis (24/9).
Luas lahan lada putih di Desa Lampar mencapai sekitar tiga hektar dengan pola tanam tumpang sari. Tanaman merica itu dirambatkan pada pohon-pohon keras, seperti mahoni dan lainnya. Tetapi ada pula yang dirambatkan pada pohon pepaya yang sudah tinggi.
Saat ini, tanaman tersebut sudah mulai panen. Hanya saja, dampak kemarau panjang mengakiabatkan sebagian tanaman itu kini kering dan mati. Merica yang sebentar lagi bisa dipanen pun ikut kering dan tak bisa dipanen lagi. Sebagian masih tampak hijau, namun ada pula daun-daunnya yang sudah mulai mengering. “Kalau sudah kering tak bisa dipanen lagi. Pohonnya juga mati,” kata Dwi.
Dampaknya, panen merica di desa paling selatan di wilayah kecamatan Musuk itu tahun ini merosot. Padahal, harga salah satu komoditi bumbu dapur itu kini cukup bagus. “Harganya mencapai Rp 160.000 per kilogram kering. Sedangkan yang kualitasnya bagus harganya bisa mencapai Rp 200.000/kg,” jelasnya.

Jpeg
Jpeg

Menurut Dwi, tanaman lada putih mulai dibudidayakan warganya sejak beberapa tahun lalu. Bibitnya awalnya dari Kalimantan yang dibawa warga Lampar yang merantau kesana. Saat ini lada putih semakin banyak ditanam warga karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. “Saat ini mayoritas masyarakat mulai menanam lada putih,” imbuh Dwi.
Setelah dipetik, lanjut dia, lada putih tak bisa langsung dijual ke pasar. Tetapi harus diolah terlebih dahulu agar kulitnya terkelupas dan dikeringkan. Caranya, bisa dimasukkan ke air mendidih sehingga kulit lada putih itu bisa dengan mudah mengelupas. Namun yang paling bagus yakni direndam air dingin selama 10 hari hingga setengah bulan. “Tetapi kendalanya di air, karena setiap hari air yang digunakan untuk merendam harus diganti. Padahal saat ini warga kesulitan air bersih dan harus membeli.”
Pihaknya berharap ada campur tangan pemerintah dengan memberikan pembinaan, sehingga tanaman lada putih di Desa Lampar bisa semakin berkembang. Karena di Desa Lampar cukup cocok untuk tanaman ini.(JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *