Combine Harvester Bantu Petani Maksimalkan Hasil Panen

  • Whatsapp
Panen Padi
Panen Padi

Pati, Jowonews.com – Sulitnya mencari tenaga untuk memanen padi turut mempengaruhi tingkat keberhasilan panen. Hal ini dikarenakan ketertarikan generasi muda di dunia pertanian semakin minim. Melihat hal itu, pemerintah pusat melalui Bupati Pati Haryanto, memberikan 24 unit Combine Harvester kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di hamparan persawahan desa dengkek, Kec. Pati, hari ini (8/10).

Combine Harvester merupakan alat panen padi kombinasi. Disitu dilakukan pemotongan sekaligus perontokan, hingga menjadi bulir-bulir gabah. Dengan alat ini, untuk memanen padi dengan luas 1 ha hanya membutuhkan waktu 6 – 7 jam. Namun bagi mereka yang sudah terbiasa menggunakan alat ini, cukup 6 jam sudah bisa menyelesaikan lahan seluas 1 ha.

Bacaan Lainnya

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan dari Kementerian Pertanian Tanaman Pangan Republik Indonesia, Ir. Tri Agustin Satriani, MM yang turut hadir dalam kegiatan penyerahan bantuan tersebut mengatakan, alat tersebut akan sangat membantu petani dalam efisiensi waktu dan biaya.

“Dua kegiatan yang dijadikan satu dengan alat combine harvester. Selain memotong juga merontokan hingga menjadi gabah. Alat ini juga bisa membuat hasil panen menjadi lebih bersih. Jika masih ada merang yang terbawa itu artinya, setelannya belum pas,” tuturnya saat memberi sambutan.

Ia menambahkan, bagi yang sudah terbiasa, maka kegiatan memanen untuk 1 ha hanya butuh waktu 6 jam. “Karena itu saya minta, pemerintah daerah memberikan pelatihan bagi operator di masing-masing Gapoktan jangan cuma satu orang. Dari Dinas Pertanian juga saya minta untuk memberikan sertifikat pelatihan bagi mereka yang sudah mengikuti pelatihan,” jelasnya.

Jika alat sudah canggih, namun tenaga tidak memadai, maka target meningkatkan hasil pertanian akan sulit terwujud. “Bayangkan jika yang dilatih hanya satu, kemudian orangnya berganti haluan jadi sopir atau merantau, maka tidak ada pengganti. Jika digunakan secara sembarangan, alat bisa cepat rusak. Padahal harga alat tersebut mahal, serupa dengan harga satu buah mobil bahkan lebih,” tambahnya.

Kelebihan lain dari alat tersebut adalah mampu menekan angka susut hasil sebesar 1-2 persen. “Jika menggunakan metode manual, susut hasil akan mencapai 15-20 persen disebabkan banyaknya gabah yang terbuang. Dari segi bahan bakar  juga lebih hemat karena hanya membutuhkan 1,5 – 2 liter solar per jamnya. Jadi amat efisien,” paparnya.

Ia mengatakan pada tahun ini, keberhasilan panen di Provinsi Jawa Tengah sudah amat membanggakan. “Produksi pangan di Jateng memberi sumbangan sebanyak 14 % dari seluruh produksi pangan nasional, setelah Jawa Timur dan Jawa Barat. Khusus Kabupaten Pati menempati peringkat ketiga penyumbang pangan terbesar di tingkat Jawa Tengah,” ujarnya.

Di sisi lain, Bupati Pati Haryanto mengatakan bahwa alat panen modern tersebut ada sisi positif dan negatifnya.

“Pemberian bantuan Combine Harvester adalah salah satu bentuk perhatian dari pemerintah pusat kepada para petani. Di satu sisi, mencari tenaga pemanen tidak mudah dan harus menunggu cukup lama, dengan bantuan alat ini tentunya bisa memudahkan kelompok tani.  Di sisi lain ada juga yang merasa tersaingi,” ungkapnya.

Meskipun demikian, ia tak menampik bahwa petani juga harus mengikuti perkembangan teknologi demi meningkatkan hasil pertanian. “Karena perkembangan teknologi yang maju harus didukung dengan sarana prasana, dari pra panen hingga pasca panen. Jika tidak demikian maka kita tidak akan maju-maju, kalau kita berkutat dengan tradisional terus hasilnya tidak mencukupi,” jelasnya.

Haryanto pun berharap dengan adanya perkembangan teknologi ini para petani bisa memanfaatkan hasil panennya tepat waktu. “Sehingga bisa segera mengolah lahannya kembali,” harapnya.

Dengan meningkatnya hasil panen, bukan berarti permasalahan di kalangan petani terhenti. Sukardi misalnya, sebagai Ketua Gapoktan Sido Makmur desa Dengkek, Kec. Pati mengungkapkan, adanya hambatan terutama masalah pengairan.

“Semenjak waduk Gembong susut, kita kesulitan masalah pengairan. Kami mohon pada Bupati untuk memberi bantuan pada kami agar bisa nyedot air dari waduk Silogonggo supaya percepatan tanaman pangan bisa berjalan dengan lancar,” tuturnya.

Selain itu, ia dan kawan-kawannya sesama petani juga mengeluhkan harga padi yang anjlok.

“Kita sering dipermainkan tengkulak. Padi kita dibeli dengan harga sangat rendah. Jadi kita mohon Bupati membantu agar akses jual beli petani dengan Bulog dipermudah. Biar padi kita laku semua dengan harga yang stabil. Sehingga sebelum panen kita sudah punya gambaran, berapa harga padi kita nantinya,” imbuh salah satu petani, M. Sahid.

Mereka berharap, pemerintah mau membeli semua hasil penen mereka agar petani bisa lebih sejahtera dan tidak dipermainkan tengkulak lagi. (JN04)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *