Situs Candi Duduhan Tabir Peradaban Kuno

  • Whatsapp
Situs Peninggalan Kerajaan Mataram Ditemukan di Mijen Semarang
Situs Peninggalan Kerajaan Mataram Ditemukan di Mijen Semarang
Situs Peninggalan Kerajaan Mataram Ditemukan di Mijen Semarang
Situs Peninggalan Kerajaan Mataram Ditemukan di Mijen Semarang

SEMARANG, Jowonews.com – Ketua Tim Penelitian Ekskavasi Candi Duduhan dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Agustijanto Indrajaya, mendorong Pemkot Semarang, khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudparta) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, bisa menindaklanjuti ekskavasi lebih dalam lagi.

“Kami merekomendasikan untuk bisa ditindaklanjuti dengan ekskavasi lanjutan, penggalian total, sebagai bahan penelitian lebih dalam dan komprehensif,” terangnya saat Focus Group Discussion (FGD) di Bappeda, Lantai 7, Gedung Balaikota Semarang, Kamis (8/10).

Bacaan Lainnya

Menurut dia, situs Candi Duduhan bisa membuka sejarah tentang bagaimana penyebaran Hindu di pesisir pantura dan Semarang. Bisa jadi pula membuka sejarah baru tentang Semarang itu sendiri. “Situs Duduhan adalah yang paling lengkap selama sejarah penemuan situs di Semarang. Ini bisa menjadi hipotesa petunjuk jika peradaban di Semarang bisa jadi lebih tua atau ada sebelum Mataram kuno,” katanya.

Hasil penelitian Agustijanto menemukan hasil berupa tinggalan artefak arca, yang diduga sebagai altar persembahan milik pemujaan agama Shiwa (Hindu). Artefak itu marak di zaman Mataram akhir.

Arkeolog, yang juga dosen Fakultas Ilmu Sejarah dan Arkeologi, Universitas Negeri Semarang (Unnes) Ufi Saraswati juga memperkuat hipotesa Agustijanto jika peradaban Semarang memiliki penguasa tersendiri pada zamannya. “Ada prasasti Cangga di Magelang mengatakan jika silsilah antara penguasa pesisir selatan dengan pesisir utara Jawa memiliki wilayah tersendiri. Ini diartikan, di Duduhan (Semarang) ada peradaban penguasa lokal di luar dinasti Sanjaya dan Syailendra yang berkuasa di dataran Kedu sekitar abad 9-10 masehi,” jelasnya.

Dikatakannya juga hal ini sebagai benang merah, karena adanya missing link, antara peradaban sebelum Syailendra dan Sanjaya. Ufi berharap pemerintah Kota Semarang bisa menanggapi serius penemuan candi Duduhan ini. “Bisa jadi ini sebagai tempat penelitian dan rujukan untuk semua yang ingin mengetahui sejarah Hindu di Semarang dan pesisir utara,” ujarnya.

Namun Ufi berharap, jika diekskavasi lebih dalam tidak dijadikan lahan komersil yang bisa merusak tatanan situs. “Seperti Borobudur yang jadi komersil. Sekarang Borobudur banyak artefak yang rusak dan terjadi krisis dislokasi karena Borobudur mulai tenggelam ketanah kembali beberapa senti dari kedudukannya,” tukasnya.

Menangapi hal tersebut, Kepala Bapeda Semarang M. Farchan bersedia menindaklanjuti ekskavasi dengan kembali menginventarisasi sisi arkeologi dan ketataruangan kota.(JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *