Dampak Ekonomi Panen Tembakau

  • Whatsapp

TEMANGGUNG, Jowonews.com – Aktivitas masyarakat menjemur tembakau rajangan di sejumlah tanah lapang di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, memasuki awal Oktober 2015 mulai surut.

Daun tembakau di ladang yang belum dipetik tinggal beberapa lembar yang masih tersisa di setiap pohon bagian atas, bahkan di beberapa daerah panen sudah berakhir.

Bacaan Lainnya

Namun, aktivitas jual beli tembakau di sejumlah gudang perwakilan pabrik rokok di Temanggung masih ramai.

Antrean kendaraan, baik truk maupun mobil bak terbuka, yang membawa sejumlah keranjang berisi tembakau kering terlihat di gudang tempat pembelian tembakau.

Temanggung merupakan salah satu sentra penghasil tembakau di Jawa Tengah. Tembakau yang dihasilkan daerah kawasan lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau itu, merupakan tembakau terbaik untuk bahan baku pembuat rokok keretek.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Temanggung, luas lahan tanaman tembakau tahun ini mencapai sekitar 18 ribu hektare atau lebih luas dari tahun lalu.

Produktivitas tanaman tembakau tahun ini turun. Mundurnya masa tanam tembakau membuat pertumbuhannya kekurangan air karena kemarau. Pertumbuhan tanaman tidak bisa optimal.

Petani warga Desa Tlahap, Kecamatan Kledung, Setyo, mengatakan harga tembakau tahun ini relatif sama dengan tahun lalu. Hanya saja untuk produktivitas turun sekitar 20 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Ia mengatakan harga tembakau menjelang masa akhir panen ini, untuk tembakau grade F tingkat petani di wilayah Kledung rata-rata mencapai Rp130.000 per kilogram dan grade G kisaran Rp250.000 per kilogram.

Tembakau grade F dan G memiliki kandungan nikotin dan tar sangat tinggi ditandai warna hitam kemerahan serta kekuningan dengan aroma harum.

“Kualitas tembakau tahun ini sangat bagus, namun harganya tidak sesuai harapan petani,” katanya.

Panen tembakau yang berlangsung sejak akhir Agustus 2015 tersebut, secara langsung telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang terlibat langsung dalam aktivitas pertembakauan, antara lain perajin keranjang tembakau, buruh jemur, dan buruh gendong, Namun, dampak panen tembakau tahun ini belum dirasakan oleh sektor perdagangan di “Negeri Tembakau” tersebut.

Saat panen tembakau, biasanya pasar tradisional, toko elektronik, dan diler sepeda motor ramai diserbu petani untuk membelanjakan hasil panennya.

Pedagang sembako di Pasar Kliwon Temanggung, Kholifah, mengatakan kondisi pasar saat ini biasa-biasa saja, padahal sekarang lagi panen raya tembakau.

“Saat panen tembakau, biasanya permintaan sembako ramai, namun tahun ini relatif sepi seperti tidak ada panen tembakau,” katanya.

Pernyataan yang sama juga disampaikan pedagang di Pasar Legi Parakan, Mudofar.

Ia mengatakan bahwa kondisi pasar saat panen raya tembakau tahun ini tidak seramai panen tembakau tahun lalu.

Menurut dia, pasar ramai hanya sekitar dua pekan pada September lalu, padahal panen tembakau berlangsung sekitar dua bulan.

Hal yang sama juga dialami pedagang barang elektronik dan sepeda motor di Temanggung.

Pemilik toko elektronik Mutiara Jaya Temanggung, Ruslan, menuturkan dampak panen tembakau sama sekali belum terasa dan bahkan disebutnya sebagai “nol”.

Padahal, tahun-tahun sebelumnya saat panen raya tembakau, hampir selalu tokonya diserbu konsumen yang rata-rata dari wilayah penghasil tembakau.

“Hingga akhir masa panen tembakau, belum ada kejutan dari tembakau. Paling sehari cuma laku lima unit, padahal tahun lalu sehari bisa menjual lima buah TV, belum barang elektronik lainnya kipas angin, DVD, kulkas, dan mesin cuci, sehari bisa terjual minimal 15 unit,” katanya.

Manajer Soedirman Motor Temanggung, Kasimin, mengatakan pada panen raya tembakau tahun ini permintaan sepeda motor di tokonya turun sekitar 25-30 persen dibandingkan dengan masa panen tembakau 2014.

“Permintaan sepeda motor saat panen tembakau tahun lalu rata-rata enam unit per hari, saat ini hanya sekitar empat unit per hari. Hingga memasuki akhir masa panen tembakau tahun ini, sepertinya tidak ada geliat permintaan sepeda motor,” katanya.

Ia menuturkan hingga awal Oktober ini, rata-rata permintaan sepeda motor masih sama seperti bulan-bulan sebelumnya, yakni empat unit sepeda motor per hari.

Ia mengakui memasuki Oktober 2015, ada sedikit pergeseran dari kredit ke tunai. Penjualan tunai meningkat sekitar 10 persen dan pembelinya memang dari daerah penghasil tembakau, seperti Candiroto, Bulu, Kedu, dan Wonoboyo.

Ia mengatakan saat panen tembakau seperti sekarang ini biasanya merupakan “booming” untuk penjualan sepeda motor di Temanggung, namun untuk tahun ini kelihatannya sepi.

Khusus menghadapi panen tembakau, pihaknya menyiapkan stok sepeda motor dua kali lipat daripada kebutuhan saat hari normal.

“Kami menyetok untuk persediaan dua bulan, sampai saat ini di gudang masih penuh kendaraan,” katanya.

Anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan DPRD Kabupaten Temanggung Anang Hudallah mengatakan hasil dari panen tembakau di Kabupaten Temanggung pada 2015 tidak sesuai harapan petani.

“Kami mendengarkan keluhan petani tembakau, panen raya tahun ini tidak sesuai dengan harapan mereka, padahal cuaca saat panen ini sangat mendukung,” katanya.

Ia menuturkan meskipun sudah ada wadah organisasi petani tembakau, hal itu belum mampu menjadi pengayom bagi masyarakat pertembakaun secara umum, sehingga petani tidak mempunyai posisi tawar terhadap pabrikan.

“Memang sudah ada organisasi petani tembakau, tetapi kiprahnya belum begitu terasa bagi petani tembakau,” katanya.

Menurut dia, pemerintah daerah harus hadir sebagai regulator dalam rangka memberikan solusi yang tepat terhadap permasalahan pertembakauan pada masa mendatang, sehingga petani bisa merasakan panen raya yang sesuai harapan.

Melihat problematika klasik tersebut, katanya, Fraksi PPP mengajak semua pihak peduli dan membuka wacana untuk membuat peraturan daerah tentang tata niaga tembakau.

Ia menyebut ironis terhadap julukan Temanggung sebagai “Negeri Tembakau” dengan kualitas tembakau srintil yang diakui dunia, tetapi tidak mempunyai perda tentang tata niaga tembakau.

“Nantinya perda tersebut diharapkan menjadi ‘win-win solution’ sehingga kesejahteraan petani tembakau bisa terwujud dan pemurnian kualitas tembakau Temanggung juga terjaga,” katanya.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *