Petugas Diminta Ramah Kepada Penyandang Disabilitas

  • Whatsapp
ilustrasi

KPUBOYOLALI, Jowonews.com – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Boyolali berupaya meningkatkan partisipasi jumlah pemilih dalam Pilkada 2015, dari penyandang disabilitas. Petugas KPPS diminta ramah kepada penyandang disabilitas sehingga mereka dapat menyalurkan hak pilihnya.  

Anggota KPU Boyolali, Pargito, mengakui masih ada keluhan dari para penyandang disabilitas dan perlakuan yang cenderung diskriminatif atau kurang ramah dari petugas di TPS. Sehingga cukup menggangu saat mereka menyalurkan hak pilihnya. 

Bacaan Lainnya

“Memang masih ada keluhan seperti itu. Namun saat ini sudah ada deklarasi untuk jaminan perlakuan ramah kepada penyandang disabilitas, agar jangan sampai sikap kurang ramah tersebut terulang dalam Pilkada 2015 ini,” ujar Pargito, disela-sela sosialisasi Pilkada Boyolali 2015 kepada penyandang disabilitas, Kamis (15/10). 

Dalam sosialisasi kepada berbagai penyandang disabilitas seperti tuna daksa, rungu, wicara, pihaknya juga mengundang petugas PPK dan PPS. Dengan demikian, mereka akan tahu bagaimana memberikan pelayanan kepada penyandang disabililitas dalam proses pencoblosan.

Selain soal sikap dan pelayanan, lanjut Pargito, peningkatan fasilitas atau akses yang memudahkan penyandang disabilitas di TPS juga akan ditingkatkan. Misalnya, template kertas suara untuk penyandang tuna netra serta akses dan lokasi kotak suara yang nyaman untuk penyandang tuna daksa. 

Setelah sosialisasi dan simulasi ini, KPU Boyolali akan berdiskusi dengan penyandang disabilitas. Khususnya berkait kekurangan fasilitas dan pelayanan yang mesti dilengkapi agar mereka dapat memberikan hak suaranya secara nyaman dan adil saat pencoblosan nanti. 

Untuk jumlah pemilih penyandang disabilitas dalam Pilkada kali ini, kata Pargito, masih terus didata. Dia memperkirakan, dari total 6.800 penyandang disabilitas di Boyolali, setidaknya separuh lebih sudah mempunyai hak pilih.

Saat ini mereka masih didata dan dipetakan, termasuk di TPS mana mereka akan memilih. Sehingga TPS yang bersangkutan bisa menyiapkan fasilitas ramah disabilitas yang dibutuhkan. 

Sementara itu salah satu penyandang tuna rungu, Ariyanto, melalui penerjemahnya mengatakan, dalam empat kali Pemilu dirinya kesulitan terutama dalam proses antrian pencoblosan. Sebab petugas TPS hanya memberitahu pemilih lewat suara saja, padahal ia mempunyai kesulitan dalam pendengaran.

“Harapan kami nanti ada petugas atau fasilitas khusus yang membantu penyandang disabilitas. Jangan memanggil lewat suara saja, kalau bisa ada tulisan atau petugas khusus yang memberitahu,” harapnya. (JN01)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *