Orang Tua Murid SD Kudus Keluhkan Mahalnya Biaya Piknik

  • Whatsapp
Kreatif. Mahasiswa FK Undip ajak anak mencintai sayur dengan program unik.
Kreatif. Mahasiswa FK Undip ajak anak mencintai sayur dengan program unik.

Kreatif. Mahasiswa FK Undip ajak anak mencintai sayur dengan program unik.

KUDUS, Jowonews.com – Seorang wali murid di SDN 3 Demaan, Kecamatan Kota, Kudus, Nugroho, merasa keberatan atas penyelenggaraan piknik untuk siswa kelas VI di sekolah tersebut.  Pasalnya, biaya yang harus ditanggung wali atau orangtua murid cukup besar.

“Biayanya mencapai Rp1.150.000, kami merasa itu memberatkan,” kata Nugroho, Jumat (16/10).

Kendati merasa keberatan, nyatanya ia tetap memberangkatkan dan membayar iuran piknik, dengan tujuan Trans Studio Bandung, dan pemandian air panas Ciater, serta menginap di Fave Hotel, pada 11-13 Oktober kemarin.

“Mau bagaimana lagi, yang lain pada berangkat ya saya mau tidak mau tetap membayar agar putri saya bisa ikut, seperti teman-temannya,” keluh seorang pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Pemkab Kudus itu.

Guru di SDN 3 Demaan, Supriyani, mengaku kaget atas adanya keberatan dari wali murid tersebut. Menurutnya, jika memang keberatan, harusnya dikemukakan di awal, sebelum keberangkatan. “Bukan di belakang seperti ini, setelah semua terlaksana,” ujarnya.

Terlebih, lanjut dia, pihak sekolah maupun guru tak turut mengurusi kegiatan tersebut. Baik soal destinasi maupun soal besaran biaya, itu merupakan hasil kesepakatan dalam rapat yang diikuti oleh para wali murid. “Ada panitianya, dan guru tak terlibat di dalamnya. Semua itu yang menentukan dan atas kesepakatan forum rapat wali murid,” katanya.

Diterangkan lebih lanjut, sebelum keberangkatan memang ada seorang wali murid yang mengaku keberatan atas biaya itu. Sehingga, forum rapat memutuskan untuk memberikan subsidi silang.

“Kalau ngomongnya di depan kan enak, jika ada masalah bisa dicarikan solusi bersama oleh para wali murid,” tutur perempuan berhijab yang akrab disapa Nunik itu.

Diakui, dalam kegiatan piknik tersebut diikuti oleh 43 siswa, dan 15 guru. Menurutnya, guru memang tak ditarik untuk iuran. Memang ada satu siswa yang tak ikut, tapi bukan karena keberatan, melainkan karena sedang hitan.
“Guru ikut piknik itu atas persetujuan dan keinginan para wali murid, untuk mendampingi anak-anak mereka,” ucapnya.

Guru lainnya, Ponco, mengatakan secara aturan tak ada larangan untuk siswa mengadakan piknik ke luar daerah dan menginap. Asal semua itu atas kesepakatan siswa dan wali muridnya. “Kalau ada imbauan seperti itu mungkin ada. Tapi beda lho antara imbauan dan larangan,” tutur dia. (JN04)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *