Tiap Tahun, PKBI Tangani 60 Kehamilan Tak Dikehendaki

  • Whatsapp

SEMARANG, Jowonews.com- Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah menyebutkan setiap tahunnya mendapatkan laporan dan menangani sekitar 60 kasus kehamilan tidak dikehendaki. “Setiap tahunnya, setidaknya ada 60 remaja datang ke kami karena mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki,” kata Direktur Eksekutif PKBI Jateng Elisabet S.A. Widyastuti di Semarang, Jumat.
Menurut dia, banyaknya remaja yang mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki itu, menunjukkan betapa kurangnya pemahaman mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi di kalangan remaja selama ini.
Ia mengatakan kebanyakan remaja yang melaporkan kehamilan yang tidak dikehendaki itu, ternyata tidak mengetahui dampak dan konsekuensi dari hubungan seksual yang dilakukannya dengan pasangannya.
“Ada yang tidak tahu kalau berhubungan seksual sekali saja ternyata bisa menyebabkan hamil, dan sebagainya. Makanya, kasus-kasus semacam ini kemudian menyebabkan banyaknya pernikahan anak,” katanya.
Dari remaja yang melaporkan kehamilan yang tidak dikehendakinya, PKBI Jateng kemudian memberikan pendampingan dan konseling kepada mereka agar mereka berdaya mengambil keputusan untuk dirinya.
Lisa, panggilan akrabnya, mengatakan pihaknya tidak pernah memaksakan suatu keputusan terhadap remaja yang mengalami kehamilan tidak dikehendaki yang bersedia melapor, melainkan melakukan pendampingan.
“Penyelesaiannya, ada yang kemudian menikah, ada yang kemudian memutuskan tinggal di ‘shelter’ melanjutkan kehamilannya, ada pula yang mengalami permasalahan kesehatan atas kehamilannya,” katanya.
Sebab, kata dia, banyak remaja yang berupaya melakukan cara apa pun menggugurkan kandungannya sehingga berdampak terhadap kondisi kandungannya karena malu, takut ketahuan, atau merasa belum siap.
“Makanya, remaja-remaja yang mau melapor ini kemudian kami berikan pendampingan. Bagi mereka yang kemudian memutuskan menikah atau tidak menikah, kami tidak menganggap salah satunya keputusan terbaik,” katanya.
Yang terpenting, Lisa mengatakan, remaja-remaja itu harus didampingi sampai berdaya mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dengan mempertimbangkan berbagai hal dengan tanpa tekanan dan paksaan siapa pun. (Jn16/ant)


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *