Hidupkan Kembali PKI Salatiga, Majalah Lentera Ditarik

  • Whatsapp

SALATIGA, Jowonews.com – Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi (Fiskom) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga menarik peredaran majalah Lentera edisi 3. Tindakan ini dilakukan setelah majalan terbitan kelompok bakat minat (KBM) yang berjudul Salatiga Kota Merah meresahkan publik.

Hal ini diungkapkan oleh Dekan Fiskom, Daru Purnomo kepada sejumlah wartawan, Senin (19/10) di kampus UKSW. “Kami menarik majalah Lentera edisi ketiga, sebelum menarik dari peredaran, kami sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Jadi hanya ditarik, bukan membredel,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Daru juga membantah pemberitaan kalau pimpinan dan anggota redaksi Lentera mengalami intimidasi selama proses pemeriksaan di Polres Salatiga. Majalah yang memuat peristiwa 1965 di Salatiga tersebut sebelumnya sempat beredar di luar kampus dan menjadi perbincangan masyarakat.

Daru mengatakan akibat peredaran tersebut, beberapa anggota redaksi sempat dimintai keterangan oleh aparat kepolisian terkait dengan proses penerbitan majalah yang dijual secara umum seharga Rp15 ribu per eksemplar.

“Saya kira sudah jelas dan atas nama fakultas kami menyampaikan permohonan maaf atas beredarnya majalah tersebut di luar kampus. Kami juga menyatakan bahwa selama proses pemeriksaan di kepolisian tidak ada intimidasi dari aparat dan tidak ada pembakaran majalah dimaksud,” ungkapnya.

Daru menambahkan, baik fakultas maupun pihak redaksi Lentera sepakat untuk menarik kembali peredaran majalah yang dianggap meresahkan warga karena memuat mengenai wawancara korban PKI di Salatiga. Pihaknya juga menjamin tidak akan ada pembekuan terkait aktifitas redaksi Lentera setelah adanya kejadian ini

“Sejatiya majalah ini hanya untuk lingkungan akademiki di kampus. Sehingga sampai beredar di luar, maka bisa menimbulkan penafsiran yang beda,” imbuhnya. Pihak fakultas, imbuh Danu, mengaku kecolongan dengan konten majalah Lentera edisi ketiga ini.

Dia menuding, pihak redaksi tidak melakukan prosedur penerbitan yang diterapkan di fakultas. “Sebelum terbit, seperti edisi-edisi sebelumnya, redaksi harus konsultasi ke koordinator bidang kemahasiswaan atau Dekan. Namun terbitan kali ini tidak melalui konsultasi,” imbuhnya.

Sementara itu terkait isi majalah, Pimpinan Redaksi Lentera Bima Satria mengaku melakukan investigasi terkait tulisan-tulisan dalam majalah tersebut. Sejumlah reporter Lentera, lanjut Bima, melakukan penelitian dan wawancara terhadap sejumlah korban tragedi 65 yang berdomisili di Kota Salatiga dan sekitarnya.

“Terkait isi, memang hal tersebut sudah dilakukan sesuai prosedur jurnalistik. Kami menilai, banyak simpatisan yang tidak tahu apa-apa menjadi korban 1965,” katanya. Majalah Lentera edisi 3 yang berjudul Salatiga Kota Merah yang diterbitkan oleh KBM Lentera beredar di luar kampus sejak sepekan kemarin dan dijual bebas di sejumlah lokasi.

Beredarnya majalah yang memuat sejarah PKI di Salatiga tersebut sempat membuat kalangan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Salatiga mengundang pihak rektorat guna dimintai penjelasan terkait peredaran majalah tersebut. Pihak kepolisian juga  turun tangan. (JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *