Pakar: Media Sosial Picu Kericuhan Piala Presiden 2015

  • Whatsapp

JAKARTA, Jowonews.com – Aksi kericuhan di luar Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta Pusat Minggu malam, disebabkan adanya provokasi melalui media sosial yang mengakibatkan lebih dari 1000 pelaku tindak kekerasan ditahan, walaupun pengamanan sudah cukup baik.

Pakar Sosiologi Komunikasi, Yudha Asmara M.I.Kom mengatakan kepada Antara Senin pagi, salah satu pemicu kericuhan yaitu kecemburuan sosial Jakmania terkait prestasi Persija yang tidak maksimal dalam pertandingan sepak bola Piala Presiden.

Bacaan Lainnya

“Karena korban dari media sosial yang sifatnya sebenarnya hoax (berita bohong). Jadi dipicu melalui broadcast BBM (Blackberry messenger) atau media sosial, sehingga memicu dan tidak ada kontrol pemerintah,” kata Yudha.

Peran pemerintah dalam pengamanan sudah cukup baik, hanya saja ada beberapa kendala yang harus diatasi terkait mediasi antar dua suporter dari Persib Bandung dan Persija Jakarta, agar tidak memengaruhi masyarakat luas dan menjadi kondisi sosial yang kondusif. Sementara itu, Presiden Joko Widodo juga memberikan pernyataannya terhadap pertandingan tersebut.

“Kita ingin sepak bola ini mempersatukan, bukan sebaliknya. Inilah hal yang perlu saya garis bawahi. Bagaimana pun, saya lihat hal positif dari ini (Piala Presiden), yaitu fair play dan sanksi tegas berupa denda besar sehingga pemain tidak berani macam-macam kepada wasit, apalagi memukul. Saya kira ini sangat bagus. Pertandingan menjadi bersih,” kata Jokowi.

Yudha menambahkan terkait permasalahan ini, seharusnya ada badan riset yang meneliti dari segala aspek agar tidak terjadi hal yang sama pada masa yang akan datang. Dibutuhkan pengawalan yang lebih ketat dan peran masyarakat, termasuk suporter juga untuk mewujudkan sepak bola yang lebih sehat.

Lebih dari 1000 pelaku kericuhan yang ditahan, diantaranya masih berumur di bawah 16 tahun sehingga perlu adanya peran keluarga dalam pembentukan moral dan karakter, serta pengawasan agar tidak terpengaruh dalam aksi kericuhan tersebut.

“Secara konsep diri, jati diri remaja tersebut belum mapan, hanya ikutan kelompok suporter, sehingga terjadi polarisasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang salah satunya pelemparan batu terhadap Bobotoh. Bermula, bisa dari kelompok yang dipicu juga dari media sosial, sehingga berbuat anarki,” kata Yudha.

Yudha berpendapat, walaupun demikian sepak bola di Indonesia sudah ada kemajuan, dilihat dari konflik tersebut yang tidak menimbulkan korban seperti kejadian yang dialami Rangga pada 2012. Rangga merupakan Bobotoh yang tewas karena pengeroyokan yang terduga oleh Jakmania.

Dalam pelaksanaannya, aparat panitia sudah baik dan maksimal tetapi pengamanan kontrol arus informasi tidak diperhatikan sehingga tidak terkontrol. Media sosial dan aliran informasi yang belum dijamah oleh pemerintah.

Sementara itu, pihak yang diduga sebagai provokator sudah ditangkap.

“Telah diamankan seorang yang mengaku bernama Febrianto, umur 37 tahun, jabatan sebagai Sekjen Jakmania, mengaku pekerjaan sebagai wartawan,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti di Jakarta, Senin.

Yudha juga menambahkan, Stadion GBK merupakan stadion kebanggaan dan berskala nasional, sehingga tidak masalah jika dalam pelaksanaan pertandingan final kompetisi-kompetisi selanjutnya tetap di sana karena menjadi simbol tertinggi perhelatan sepak bola.

Sekali pun final kejuaraan-kejuaraan mendatang tetap dilaksanakan di GBK, Yudha minta agar panitia penyelenggara dan jajaran Polri semakin memperketat keamanan.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *