Subsidi Listrik Selama Ini tak Tepat Sasaran

  • Whatsapp
Gardu Induk Ungaran. (Foto : PLN)
Gardu Induk Ungaran. (Foto : PLN)

SEMARANG, Jowonews.com – Tingginya Tarif Daftar Listrik (TDL) di Indonesia selama ini diduga salah satunya karena adanya penyaluran subsidi listrik yang tidak tepat sasaran. Sehingga PT PLN didorong berani melakukan pemutahiran data pelanggan.

Demikian benang merah dari Focus Group Discussion bertajuk “Menuju Subsidi Listrik Yang Tepat Sasaran”,di Hotel Grasia Semarang, Selasa (20/10) kemarin.

Bacaan Lainnya

“PT PLN harus berani melakukan pemutahiran data pelanggan listrik. Sebab, diduga pemberian subsidi listrik kepada masyarakat banyak yang tidak tepat sasaran,”ungkap Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Semarang Ngargono.

Menurutnya, PT PLN harus memiliki klasifikasi jelas, siapa saja yang berhak menerima subsidi listrik dari pemerintah. Seperti yang dilakukan PDAM selama ini. “Kalau di PDAM itu, sekarang jelas kriterianya. Setidaknya ada lima kriteria yang membedakan. Mulai dari lokasi rumah/ jalan. Termasuk juga besar kecilnya rumah dan lain sebagainya. Warga yang tinggal di Bukit Sari, tarifnya beda dengan warga ditempat lain di Semarang,”paparnya.

Tapi yang terjadi di PT PLN selama ini kan tidak serinci seperti itu. Pokoknya rumah tangga dengan daya 450 VA dan rumah tangga dengan 900 VA semuanya mendapatkan subsidi listrik dari pemerintah.

Padahal, masih menurut Ngargono, mereka yang memakai listrik 450 dan 900 VA ternyata juga banyak yang kaya raya. Misalnya rumah dua dan mobilnya juga dua. “Artinya ini kan subsidi yang tidak tepat sasaran,”katanya.

Sementara itu General Manager (GM) PT PLN Distribusi Jateng/DIY Yugo Riyatmo mengungkapkan, pelanggan listrik di Jateng/DIY sampai dengan September 2015 tercatat 9.810.325 pelanggan.

Rinciannya 245.002 menggunakan tarif sosial. 5.138.085 menggunakan tarif rumah tangga/450 VA dan 3.3270.143 pelanggan menggunakan tarif rumah tangga/900 VA serta 752.600 pelanggan menggunakan tarif rumah tangga selain 450 VA dan 900 VA.

“Untuk pelanggan dengan tarif bisnis ada 343.834, Pelanggandengan tarif  industri 7.520, pelanggan dengan tarif publik ada 53.117,”paparnya.

Disampaikannya jumlah penduduk miskin di Jateng pada Maret 2015 mencapai 4,577 juta orang. Naik sekitar 15,21 ribu orang jika dibanding penduduk miskin pada September 2014 yang sebesar 4,562 juta orang. Tapi secara prosentase penduduk miskin tetap sebesar 13,58 persen.

Sementara untuk penduduk miskin di DIY pada Maret 2015 mencapai 550,23 ribu orang. Ini mengalami peningkatan 5,34 ribu jiwa selama 1 tahun.

Sementara itu secara nasional dari rencana subsidi listrik tahun 2015 Rp 66 triliun, golongan tarif R-1/450 dan R-1/900 VA mengonsumsi subsidi listrik Rp 55 triliun. “Jumlah konsumen  R-1/450 dan R-1/900 VA adalah 45 juta konsumen rumah tangga dari total 58 juta konsumen PLN,”ungkapnya.

Padahal, menurut data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (PNP2K),  jumlah konsumen R-1/450 dan R-1/900 VA hanya 15,5 juta rumah tangga miskin dan rentan miskin.

“Berarti ada penerima subsidi listrik yang tidak layak menerima subsidi,”ujarnya. (JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *