Petani Penggaran Ingin Ketemu Ganjar

  • Whatsapp

UNGARAN, Jowonews.com – Sekitar 26 bidang tanah pertanian palawija dan tanaman keras seperti sengon di Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarnag bakal tergusur oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk dijadikan Balai Benih Peternakan. Akibatnya ada 26 petani penggarap akan kehilangan mata pencaharian setelah lahan sekitar 4 hektar ini diambil alih negara.

Petani penggarap ini sudah menggarap sejak tahun 2000-an. Mereka beraharap mendapatkan ganti lahan garapan agar mereka tidak menganggur setelah lahan diambil alih pemerintah. Hingga saat ini proses mediasi antara petani penggarap dan pemerintah belum ada titik temu.

Bacaan Lainnya

Kepala Desa Kalongan, Yarmuji menyatakan Pemprov Jateng rencananya akan membuat Balai Benih di Desa Kalongan. Namun petani penggarap hingga berharap ada tali asih dari pemerintah sebagai ganti rugi lahan garapan. Selama ini 26 petani ini yang menggarap lahan milik pemeritah.
“Sebenarnya petani penggarap tidak masalah jika lahan diambil pemiliknya, Pemprov Jateng. Hanya saja petani berharap ada uang kehormatan (tali asih) karena mereka telah lama menjaga dan merawat lahan pemerintah,” ujar Yarmuji di Ungaran, Rabu (21/10).

Berdasarkan informasi Yarmuji, Pemprov telah melakukan sosialisasi dan mediasi ke petani sebanyak dua kali. Namun hingga kini belum menemukan titik temu kedua belah pihak. Sebenarnya Pemprov juga tidak lepas tangan, sebagai kompensasinya para petani diberi kesempatan bekerja di balai benih.

Selain itu pemerintah juga memberi kesempatan pada petani sengon agar tidak ditebang hingga masa panen mendatang.  “Sebenarnya kami ingin ketemu Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, karena setiap kali mediasi perwakilan pemerintah bukan penentu kebijakan. Sehingga setiap kali mediasi selalu gagal,” ujarnya.

Juru bicara warga penggarap lahan Pemprov Jateng, Sarminto (45) berharap pemerintah memberikan uang ganti rugi yang sepadan. Pasalnya selama ini petani juga telah mengeluarkan biaya dan tenaga untuk menggarap lahan tersebut. Seperti mengeluarkan tenaga dan biaya melakukan penataan lahan agar dapat ditanami.

Selain itu mereka juga telah membeli bibit seperti jangun dan pupuk. Padahal tanaman ini tidak lama lagi akan musim panen.  “Kami berharap ada uang ganti rugi, atau uang kehormatan. Karena kami tidak sedikit mengeluarkan uang untuk mengelola lahan ini,” ujarnya. (JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *